1. Perkataan Mu’adz Radhiyallahu ‘Anhu Menjelang Kematiannya Tentang Kecintaannya Terhadap Ilmu
ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya’ (1/212) dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ta’ala ‘anhu, bahwa ketika datang kematian kepadanya, ia berkata, “Coba perhatikan! Apakah waktu Subuh sudah tiba?”
Maka seseorang datang dan berkata, “Waktu Subuh belum tiba.”
Lalu, ia berkata lagi, “Coba perhatikan! Apakah waktu Subuh sudah tiba?”
Maka seseorang datang dan berkata, “Waktu Subuh belum tiba.”
Demikianlah, hingga akhirnya seseorang datang kepadanya dan berkata, “Waktu Subuh telah tiba.”
Mu’adz berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari malam yang paginya menghantarkan ke Neraka. Selamat datang wahai kematian! Selamat datang! Engkaulah tamu yang datang setelah sekian lama menghilang. Engkaulah kekasih yang datang pada saat diperlukan.
Ya, Allah. Sesungguhnya, dahulu aku takut kepadaMu, maka pada hari ini aku berharap kepadaMu.
Ya, Allah. Engkau tahu bahwasanya aku tidak pernah mencintai dunia dan berlama-lama tinggal di dalamnya untuk mengalirkan sungai-sungai, tidak pula untuk menanam pepohonan, akan tetapi untuk berhaus-haus pada waktu panas terik (dengan berpuasa), melaksanakan amal pada saat-saat yang penuh kesulitan, dan duduk bersimpuh bersama para ulama di dalam majelis-majelis zikir.”
Disebutkan pula oleh ibnu ‘Abdil-Barr dalam kitab Jami’u Bayânil-‘Ilm (1/51) tanpa sanad.
2. Kecintaan Abu Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu Terhadap Ilmu
ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya’ (1/212) dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa ia berkata, “Kalau bukan karena tiga perkara, tentu aku tidak ingin bertahan hidup di dunia.”
Lalu, aku pun bertanya, “Apakah ketiga perkara itu?”
la berkata, “Kalau bukan karena rebahnya wajahku untuk bersujud kepada Penciptaku di waktu malam maupun siang hari sebagai persiapan untuk kehidupanku (di akhirat), berhaus-haus (puasa) pada waktu panas terik, dan duduk bersama orang-orang yang memilih hal-hal terbaik dalam pembicaraan, sebagaimana orang memilih buah-buahan.” -Lalu perawi meneruskan hadisnya.
3. Kecintaan Abdullah bin Abbas Radhiyallahu ‘Anhuma untuk Mencari Ilmu
AL-HAKIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Al-Mustadrak (1/106) dari ibnu ‘Abbas, ia berkata: Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wafat, aku berkata kepada salah seorang sahabat Ansar, “Mari kita bertanya kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mumpung mereka saat ini masih banyak.”
Lalu, ia berkata, “Sungguh, aneh kamu, wahai ibnu ‘Abbas! Apakah kamu beranggapan bahwa orang-orang akan memerlukanmu sementara masih ada di tengah-tengah manusia para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang terkemuka?”
Ibnu ‘Abbas berkata: Lalu, aku pun meninggalkan orang itu. Aku menyibukkan diri untuk bertanya kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.





