13 - Ilmu

Kecintaan Para Sahabat Nabi SAW. Terhadap Ilmu

23
×

Kecintaan Para Sahabat Nabi SAW. Terhadap Ilmu

Sebarkan artikel ini

la pun keluar rumah dan melihatku. la berkata, “Wahai, saudara sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam! Apa yang membuatmu datang ke sini? Mengapa tidak engkau kirim utusan kepadaku agar aku datang sendiri kepadamu?”

Aku pun mengatakan, “Tidak, aku lebih pantas untuk datang kepadamu.”

Ibnu Abbas berkata: Lalu, aku bertanya kepadanya tentang hadis tersebut.

Kemudian, orang Ansar itu panjang umur, sehingga ia melihatku ketika orang-orang berkumpul di sekelilingku untuk bertanya (tentang ilmu) kepadaku.

Maka orang Ansar itu berkata, “Anak muda ini lebih pintar daripada aku.” (Al-Hakim berkata -dan disepakati oleh Dzahabi-: Ini hadis sahih berdasarkan syarat sanad Bukhari).

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Darimi dan Harits di dalam musnad mereka dari ibnu ‘Abbas dengan lafal yang sama, -sebagaimana dalam kitab Al-Ishabah (2/331), juga oleh Thabarani dan para perawinya adalah perawi kitab Shahih-sebagaimana dikatakan oleh Haitsami (9/277).

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ibnu ‘Abdil-Barr dalam kitab Jami’u Bayânil-‘Ilm (1/85) dan ibnu Sa’d dalam Thabaqât-nya (4/182) dengan lafal yang sebagian besarnya sama.

Bazzar meriwayatkan beserta sanadnya dari ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Setelah berbagai kota berhasil ditaklukkan, orang-orang sibuk dengan urusan dunia, sementara aku sibuk menyertai Umar radhiyallahu ‘anhu.”

Maka kebanyakan hadis ibnu ‘Abbas berasal dari riwayat Umar. [Haitsami (1/161) berkata: Para perawinya adalah perawi kitab Shahih].

4. Kecintaan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu Terhadap Ilmu

ABU NUA’IM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya’ (1/381) dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidakkah kamu meminta kepadaku sebagian dari ghanimah ini yang juga diminta oleh sahabat-sahabatmu?” Aku pun berkata, “Saya meminta kepadamu agar engkau ajarkan kepadaku sebagian dari apa yang Allah ajarkan kepadamu.”

Abu Hurairah berkata: Lalu, aku melepas kain syal bergaris hitam putih yang aku kenakan di atas punggungku. Aku pun membentangkannya di antara aku dan beliau. Bahkan aku masih bisa membayangkan seekor kutu yang sedang merayap di atasnya.

Lalu, beliau menyampaikan hadis kepadaku, sampai ketika aku telah mendengar hadis hadisnya, beliau bersabda, “Himpunlah kain itu, lalu rengkuhlah ia ke dadamu.”

Akhirnya aku tidak lupa satu huruf pun dari apa yang beliau sampaikan kepadaku.

Menurut riwayat Bukhari (1/316) dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu, ia berkata: Orang-orang berkata, “Abu Hurairah terlalu banyak meriwayatkan hadis!”

Kelak pada hari kiamat, Allah sendirilah yang akan menghakimi! Orang-orang pun berkata, “Mengapa orang-orang Muhajirin dan Ansar tidak menyampaikan hadis seperti hadis-hadis Abu Hurairah?”

Padahal sesungguhnya saudara-saudaraku dari kalangan Muhajirin sibuk dalam berjual beli di pasar, sedangkan saudara-saudaraku dari kalangan Ansar sibuk mengurusi kebun-kebun mereka.

Sementara aku adalah orang miskin yang selalu menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, merasa cukup dengan rezeki sekadar makanan untuk mengisi perutku.

Aku hadir (bersama beliau) ketika mereka tidak hadir, dan aku masih hafal (hadis beliau) ketika mereka sudah lupa.

Pada suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Siapa di antara kalian yang membentangkan pakaiannya sampai aku selesai menyampaikan sabdaku ini, kemudian ia menghimpunnya ke dadanya, maka la tidak akan lupa sedikitpun dari sabdaku selamanya.”

error: Content is protected !!