Lalu, beliau bersabda, “Sinar yang tampak olehku dari pukulan yang pertama berasal dari istana-istana Hirah dan kota-kota Persia, yang tampak bagaikan taring-taring anjing.
Lalu, Jibril memberitahuku bahwa umatku akan menaklukkannya.
Dari pukulan yang kedua, bersinarlah istana-istana merah dari negeri Romawi, yang tampak bagaikan taring-taring anjing.
Jibril memberitahuku bahwa umatku akan memenangkannya.
Dan dari pukulan yang ketiga, bersinarlah istana-istana San’a, yang tampak bagaikan taring-taring anjing.
Jibril memberitahuku bahwa umatku akan memenangkannya, maka bergembiralah kalian.”
Kaum muslimin pun bergembira dan berkata, “Segala puji bagi Allah. Itu adalah janji yang benar.”
Ketika pasukan sekutu datang, kaum mukminin berkata (sebagaimana disitir dalam Alquran): “Inilah yang dijanjikan Allah dan RasulNya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (QS. Al-Ahzab: 22).
Sedangkan orang-orang munafik berkata, “Dia memberitahu kalian bahwa ia melihat dari Yatsrib istana-istana Hirah serta kota-kota di kerajaan Romawi dan bahwa semua itu dapat kalian taklukkan, sedangkan kalian menggali parit, dan tidak bisa keluar untuk menunaikan hajat”?”
Maka turunlah ayat tentang mereka: “Dan (ingatlah) ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata, ‘Allah dan RasulNya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya.” (QS. Al-Ahzab: 12).
[Ibnu Katsir berkata dalam Al-Bidayah (4/100): Ini hadis gharib]
Thabarani telah meriwayatkan beserta sanadnya dalam sebuah hadis yang panjang dari ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumâ sebagaimana yang akan disebutkan pada bagian selanjutnya tentang pertolongan gaib mengenai keberkahan makanan ketika perang.
Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Biarkan aku yang pertama kali memukulnya.”
Beliau mengucapkan, “Bismillah.” Lalu, beliau memukulnya, maka jatuhlah pecahan sepertiga batu itu.
Beliau pun bersabda, “Allahu akbar! Istana-istana Roma! Demi Tuhannya ka’bah.”
Kemudian, beliau memukul lagi, maka jatuhlah pecahannya.
Beliau pun bersabda, “Allâhu akbar! Istana-istana Persia! Demi Tuhannya ka’bah.”
Lalu ketika itu orang-orang munafik berkata, “Kita menggali parit dan ia menjanjikan kepada kami istana-istana Persia dan Romawi?”
[Haitsami (6/132) berkata: Para perawinya adalah perawi kitab Shahih selain Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dan Nu’aim Al-‘Ambari dan keduanya tsiqah].




