Sesungguhnya, Allah menolong kami bersama Nabinya shallallahu ‘alaihi wasallam bukan karena banyaknya jumlah, tidak pula dengan banyaknya bala-tentara.
Kami telah berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan ketika itu kami hanya memiliki dua ekor kuda dan kita bergantian mengendarai unta.
Dan pada peristiwa perang Uhud, kami pun menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika itu kami hanya memiliki seekor kuda yang dinaiki oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sungguh, Allah telah memberikan kemenangan kepada kami dan menolong kami terhadap orang yang menentang kami.”
Dan telah disebutkan sebelumnya apa yang dilakukan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu untuk memberangkatkan pasukan Usamah radhiyallahu ‘anhu ketika orang-orang Arab mulai memberontak dari segala penjuru, sebagian orang Arab menjadi murtad, kemunafikan menjalar, dan orang-orang Yahudi dan Nasrani mulai mengangkat kepala mereka (untuk menyerang).
Sementara kaum muslimin bagaikan seekor kambing yang kehujanan di tengah malam yang dingin karena telah kehilangan Nabi mereka shallallahu ‘alaihi wasallam, sedikit jumlah mereka dan banyaknya musuh mereka.
Lalu, kaum muslimin mengusulkan kepadanya agar menahan pasukan Usamah. Maka Abu Bakar berkata-dan dia adalah orang yang paling kuat kemauannya di antara mereka-, “Haruskah aku menahan pasukan yang telah dikirim oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? Jika demikian, sungguh berani benar aku menghadapi bahaya yang besar.
Demi Zat yang waku ada di tanganNyal Sungguh, aku lebih suka diserang oleh orang-orang Arab daripada menahan pasukan yang telah dikirim oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Berangkatlah wahai Usamah bersama pasukanmu ke arah yang beliau perintahkan, Kemudian, berperanglah seperti yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dari arah Palestina dan Mu’tah. Dan Allah akan mengurusi kota yang kamu tinggalkan (Madinah).”
Telah disebutkan sebelumnya pada bab tentang perang Mu’tah, perkataan Abdullah bin Rawahah radhiyallahu ‘anhu ketika musuh telah berkumpul sejumlah dua ratus ribu (200.000) orang, “Wahai, kaumku! Demi, sesungguhnya apa yang kalian benci adalah sesuatu yang kalian cari: Yaitu mati syahid!
Kita akan memerangi musuh bukan dengan mengandalkan jumlah, kekuatan ataupun banyaknya orang.
Kita memerangi mereka hanyalah dengan agama yang dengannya Allah telah memuliakan kita, maka berangkatlah kalian! Perang itu hanya memberikan salah satu di antara dua kebaikan: Kemenangan, ataukah mati syahid.”
Maka kaum muslimin pun berkata, “Demi Allah, Ibnu Rawahah benar.”
Selain itu, berapa banyak kisah-kisah para sahabat mengenai tema ini yang bertebaran tertulis di dalam kitab ini, juga dalam kitab-kitab hadis lainnya, kitab-kitab tentang sejarah peperangan dalam Islam dan sirah nabawiyyah.
Oleh karena itu, tidak perlu menyebutkan dan mengulanginya dalam kitab ini karena akan membuatnya menjadi terlalu panjang.










