Namun, aku hanya menemukan (1) orang cerdas yang tidak dapat dipercaya. Ia menggunakan sarana agama untuk kepentingan dunia. Dengan hujah yang Allah berikan, ia mematahkan dalil kitab Nya, dan dengan nikmat-nikmatNya, ia menundukkan hamba-hambaNya.
Atau (2) orang yang mengikuti ahlul-haqq, namun tidak memiliki pandangan mata hati yang tajam dalam menghadapi perkara-perkara yang samar. Selalu timbul keraguan di dalam hatinya begitu datang perkara syubhat. Ia tidak bisa menentukan yang ini ataukah yang itu.
Atau (3) orang yang gemar dengan kelezatan duniawi dan mudah mengikuti keinginan hawa nafsu.
Atau (4) orang yang teperdaya dengan mengumpulkan dan menyimpan harta.
Kedua orang itu (jenis ke-3 dan ke-4) bukan termasuk orang-orang yang menyeru kepada agama. Keduanya lebih mirip dengan binatang ternak. Demikianlah, ilmu akan mati dengan kematian ahli ilmu.
Namun demikian, bumi ini tidaklah sunyi dari adanya (5) orang yang tegak berdiri karena Allah dengan berdasarkan hujah Nya, agar dalil dan bukti kebenaran dari Allah tidak hilang sirna.
Mereka adalah orang-orang yang sedikit jumlahnya, namun besar nilainya di sisi Allah.
Dengan sebab mereka, Allah mempertahankan hujahNya, sehingga mereka menyampaikannya kepada orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka, dan menanamkannya di dalam hati orang-orang yang seperti mereka.
Ilmu telah merasuk ke dalam diri mereka dengan kepahaman yang sebenar-benarnya.
Maka mereka pun menganggap mudah apa yang dianggap sulit oleh orang-orang yang biasa hidup mewah, dan merasa nyaman terhadap apa yang dirasa ngeri oleh orang-orang jahil.
Badan mereka berada di dunia, sedangkan ruh mereka tergantung di tempat yang tinggi (akhirat).
Merekalah khalifah-khalifah Allah di muka bumi, dan para penyeru sejati menuju kepada agamaNya.
Ah! Betapa rindunya aku untuk bertemu dengan mereka. Aku memohon ampunan kepada Allah untuk diriku dan juga untukmu. Sekarang kamu boleh pergi, jika kamu mau.”
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ibnul-Anbari dalam kitab Al-Mashahif dan Murhibi dalam kitab Al-‘Ilm, Nashr dalam kitab Al-Hujjah dan ibnu ‘Asakir, sebagaimana dalam kitab Kanzul-‘Ummâl (5/231) dengan lafal yang sebagian besarnya sama, dengan sedikit perbedaan dalam lafalnya dan juga tambahan.
Ibnu Abdil-Barr telah menyebutkan sepenggal dari riwayat tersebut dalam kitabnya Jami’u Bayanil-‘Ilm (2/112).
Kemudian ia berkata: Ini hadis masyhur menurut ahli ilmu, dan tidak memerlukan sanad karena saking masyhurnya hadis Itu bagi mereka.






