2. Anjuran Mu’adz Bin Jabal Radhiyallahu ‘Anhu Mengenai Ilmu
ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya (1/239) dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Belajarlah ilmu (agama)! Karena mempelajarinya karena Allah ta’la
menunjukkan rasa takut kepadaNya.
Mencarinya adalah ibadah. Mengulang-ulangnya adalah tasbih. Membahas tentang masalah-masalahnya adalah jihad.
Mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahui adalah sedekah. Memberikannya kepada ahlinya termasuk pendekatan diri kepadaNya.
Karena ilmu merupakan penunjuk mana yang halal dan yang haram, penunjuk jalan bagi ahli Surga, pendamping dalam kesunyian, sahabat dalam keterasingan, kawan bicara dalam kesendirian, pemandu arah di saat senang maupun susah, senjata melawan musuh, dan perhiasan di hadapan kawan-kawan.
Dengan ilmu Allah ta’ala mengangkat derajat beberapa kaum dan menjadikan mereka sebagai panutan dan pemimpin dalam kebaikan.
Jejak mereka pun diikuti, perbuatan mereka dicontoh, dan pendapat mereka dijadikan rujukan.
Para malaikat.pun senang mendampingi mereka, dan mengusap mereka dengan sayap-sayapnya.
Setiap benda yang basah maupun yang kering, bahkan ikan-ikan di lautan maupun hewan berbisa di sana, binatang buas di daratan maupun binatang ternaknya, semua itu memohonkan ampunan untuk mereka.
Karena ilmu adalah sebab hidupnya hati dari kebodohan, dan laksana pelita dalam kegelapan.
Dengan ilmu, seorang hamba dapat mencapai kedudukan yang terbaik, derajat yang tinggi di dunia dan akhirat.
Memikirkannya sebanding dengan pahala puasa, menelaahnya sebanding dengan pahala salat malam.
Dengan ilmu dapat disambung hubungan kerabat, dapat diketahui mana yang halal dari yang haram.
Ilmu adalah pemimpin amal sedangkan amal adalah pengikutnya. Ilmu hanya diberikan kepada orang-orang yang bahagia, dan tidak diberikan kepada orang-orang yang celaka.”






