1. Hadis Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhumâ Mengenai Hal Itu
BAZZAR meriwayatkan beserta sanadnya dari ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Seseorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata kepadanya, “Orang-orang Anshar, baik lelakinya maupun wanitanya sedang menangis di masjid.”
Beliau bertanya, “Apa yang membuat mereka menangis?”
la berkata, “Mereka khawatir bahwa engkau wafat.”
Lalu, beliau keluar dan duduk di atas mimbarnya, memakai pakaian dengan menyampirkan kedua ujungnya pada kedua pundaknya, dan mengikat kepalanya dengan kain pengikat kepala yang sudah kotor.
Beliau membaca tahmid dan tsand kepada Allah kemudian bersabda: “Amma ba’du: Wahai, semuanya! Sesungguhnya, orang-orang banyak jumlahnya, namun sedikit jumlah orang-orang Anshar. Mereka adalah seperti garam pada makanan.
Barangsiapa dipercaya untuk memimpin kaum muslimin, hendaklah menerima kebaikan orang yang berbuat baik di antara mereka dan hendaklah memaafkan kesalahan orang-orang yang bersalah di antara mereka.”
[Haitsami berkata dalam kitab Majma’uz-Zawa’id (10/37): Diriwayatkan oleh Bazar dari ibnu Karamah dari ibnu Musa, dan sekarang ini aku tidak mengetahui nama-nama asli mereka. Sedangkan para perawi lainnya adalah perawi Kitab Shahih.
Hadis tersebut terdapat dalam Kitab Shahih selain bagian awalnya sampai pada kalimat: ‘Lalu beliau keluar dan duduk].
[Haitsami berkata pula dalam catatan pinggirnya, dari ibnu Hajar: ibnu Karamah adalah Muhammad bin Utsman bin Karamah. ibnu Musa adalah Abdullah. Mereka berdua termasuk para perawi Kitab Shahih].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ibnu Sa’d (2/252) dari ibnu ‘Abbas, dengan lafal yang sebagian besarnya sama.
2. Perkataan Ummul-Fadhl Radhiyallahu ‘Anhâ Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Wafat
AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya dari Ummul-Fadhl binti Harits radhiyallahu ‘anhâ, ia berkata: Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pada saat beliau sakit.
Lalu, aku pun menangis, maka beliau mengangkat kepalanya dan bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?”
Aku berkata, “Kami mengkhawatirkanmu, kami tidak pula tahu perlakuan apa yang akan kami temui dari orang-orang kafir setelahmu, wahai Rasulullah.”
Beliau bersabda, “Kalian akan dianggap lemah sepeninggalku nanti.”
[Haitsami (9/34) berkata: Dalam sanadnya terdapat Yazid bin Abu Ziyad, dinyatakan dha’if oleh beberapa orang].





