1. Kisah Seorang Wanita Anshar Ketika Mendengar Berita Syahidnya Nabi SAW. Pada Perang Uhud
THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika terjadi peristiwa Perang Uhud, penduduk Madinah berkeliling seraya berseru, “Muhammad telah syahid!”
Demikianlah sehingga banyak terdengar suara jeritan di penjuru Kota Madinah.
Salah seorang wanita Anshar yang sudah bersuami pergi hendak mencari ayahnya, anaknya, suaminya, dan saudaranya.
Aku tidak mengetahui siapakah di antara mereka yang hendak ia cari lebih dahulu.
Ketika melewati salah seorang di antara mereka, wanita itu bertanya, “Siapa ini?”
Orang-orang menjawab, “Ayahmu, saudaramu, suamimu, anakmu.”
la berkata, “Bagaimana keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”
Mereka berkata, “Di depan.”
Akhirnya, ketika ia sampai di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ia memegang ujung pakaian beliau, kemudian berkata, “Saya rela mengorbankan ayah dan ibuku demi engkau, wahai Rasulullah! Apabila engkau selamat, saya tidak peduli siapa pun yang gugur.”
[Haitsami (6/115) berkata: Diriwayatkan oleh Thabarani dalam Kitab al-Mu’jamul-Ausath dari syaikhnya Muhammad bin Syu’aib-dan aku tidak mengenalinya, sedangkan para rawi lainnya tsiqah].
Menurut riwayat Bazar dari Zubair radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Menjelang peristiwa perang Uhud, aku berkumpul bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah.
Tidak ada seorang pun dari para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang tetap tinggal di Madinah.
Banyak di antara sahabat yang gugur sebagai syuhada. Tiba-tiba seseorang berteriak, “Muhammad telah syahid!”
Maka kaum wanita pun menangis. Lalu, salah seorang wanita berkata, “Jangan terburu untuk menangis. Aku akan memastikannya dulu.”
la pun keluar berjalan kaki tanpa memiliki tujuan selain mencaritahu tentang keselamatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menanyakan keadaan beliau.
[Haitsami (6/115) berkata: Dalam sanadnya terdapat Umar bin Shafwan dan dia adalah perawi yang majhul (tidak dikenali)].
Menurut riwayat ibnu Ishak dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lewat di hadapan seorang wanita dari Bani Dinar yang suami, saudara, dan ayahnya berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Uhud.
Ketika disampaikan kabar kematian mereka kepadanya, ia bertanya, “Bagaimana keadaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”
Mereka menjawab, “Beliau baik-baik saja, wahai Ummu Fulan! Al-hamdu lillah, beliau seperti yang kamu harapkan.”
la berkata, “Tunjukkanlah beliau kepadaku agar aku dapat memandang wajahnya.”
Lalu, ditunjukkan kepadanya di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Setelah melihatnya, ia berkata, “Selama engkau selamat, semua musibah yang lain adalah kecil.”
[Demikian dalam Kitab Al-Bidayah Wan-Nihayah (4/47)].





