1. Kisah Usaîd bin Hudhair Radhiyallâhu ‘Anhu Mengenai Hal Itu
AL-HAKIM (3/288) meriwayatkan beserta sanadnya dari Abdurrahman bin Abu Laila dari ayahnya, ia berkata: Usaîd bin Hudhair radhiyallâhu ‘anhu adalah seorang laki-laki saleh, murah senyum, dan tampan. Suatu saat, ketika ia bersama Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wasallam, ia bercerita kepada orang-orang dan membuat mereka tertawa.
Lalu, Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wasallam mencolek lambungnya. Ia pun berkata, “Engkau telah menyakitiku.”
Beliau bersabda, “Balaslah.”
Ia berkata, “Wahai, Rasulullah. Engkau memakai baju gamis, sedangkan saya tidak memakai baju gamis.”
Kemudian, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam melepas baju gamisnya, maka Usaîd memeluknya, kemudian mencium sisi tubuh beliau.
Lalu, ia berkata, “Saya rela mengorbankan ayah dan ibuku demi engkau, wahai Rasulullah! Inilah yang saya inginkan.”
[Al-Hakim berkata: Ini adalah hadis yang sanadnya shahih, namun Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya beserta sanadnya dalam kitab Shahih mereka. Disepakati oleh Dzahabi lalu ia berkata: Shahih).
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Ibnu ‘Asakir dari Abu Laila radhiyallâhu ‘anhu seperti itu, -sebagaimana dalam kitab Kanzul-‘Ummâl (7/301), Thabarani dari Usaîd bin Hudhair dengan lafal yang sebagian besarnya sama, -sebagaimana dalam kitab Kanzul-‘Ummâl (4/43).
2. Sawad bin Ghuzayyah Mencium Perut Nabi Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam Pada Peristiwa Perang Badar
IBNU ISHAQ meriwayatkan beserta sanadnya dari Habban bin Wasi’ dari para syaikh di kalangan sanak saudaranya, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam meluruskan barisan para sahabatnya pada peristiwa perang Badar.
Ketika itu beliau membawa sebatang anak panah yang belum dipasang ujung runcing, dan bulunya beliau gunakan untuk meluruskan barisan.
Lalu, beliau lewat di hadapan Sawad bin Ghuzayyah radhiyallâhu ‘anhu, sekutu Bani Adi bin Najjar, yang ketika itu lebih maju dari barisan.
Maka Nabi shollallâhu ‘alaihi wasallam mencolek perutnya dengan anak panah itu dan bersabda, “Luruslah hai Sawad.”
Lalu, Sawad berkata, “Wahai, Rasulullah! Engkau telah menyakitiku, sedangkan Allah telah mengirimmu dengan kebenaran dan keadilan. Maka biarkan aku menuntut balas.”
Lalu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam menyingkap perutnya dan berkata, “Balaslah.”
Lalu, ia pun memeluknya dan mencium perutnya. Beliau bertanya, “Apa yang mendorongmu untuk melakukannya, hai Sawad?”
Ia berkata, “Wahai, Rasulullah! Musuh telah datang seperti yang engkau lihat. Jadi, saya ingin bahwa kenangan terakhir antara saya denganmu adalah bersentuhnya kulitku dengan kulitmu.”
Kemudian, Rasulullah shollallâhu ‘alaihi wasallam mendoakan kebaikan untuknya dan mengucapkan doa itu kepadanya.
[Demikian dalam kitab al-Bidayah wan Nihayah (3/271)].
3. Kisah Seorang Sahabat Lainnya yang Mencium Perut Nabi Shallalldhu Alaihi Wasallam
ABDURRAZAQ meriwayatkan beserta sanadnya dari Hasan, bahwa Nabi shallollähu ‘alaihi wasallam bertemu seorang laki-laki yang memakai pakaian yang dicelup dengan warna kuning.
Ketika itu di tangan Nabi shalalláhu ‘alaihi wasallam ada sebatang pelepah kurma. Lalu, sambil mencolek perut orang itu dengan pelepah kurma, Nabi shallallahu ‘alaihi wasolam bersabda, “Tanggalkan pakaian kuning itu.”
Beliau juga bersabda, “Bukankah aku telah melarangmu memakai pakaian semacam ini?”
Sementara itu, colekan itu membekas pada perutnya, namun tidak sampai berdarah.
Lalu, orang itu berkata, “Saya ingin menuntut balas, wahai Rasulullah.”
Lalu, orang-orang berkata, “Apakah kamu mau menuntut balas kepada Rasulullah shallallähu ‘alaihi wasallam?”
Orang itu berkata, “Semua kulit sama saja dengan kulitku.”
Lalu, Nabi shallallâhu alaihi wasallam menyingkap perutnya kemudian berkata, “Balaslah.”
Kemudian, orang tersebut mencium perut Nabi shallallâhu alaihi wasallam dan berkata, “Saya membiarkannya untukmu agar engkau memberi syafaat kepadaku pada hari kiamat:”
[Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummâl (7/302)].
4. Thalhah bin Bara’ Radhiyallâhu Anhumâ Mencium Telapak Kaki Nabi Shallallâhu Alaihi Wasallam
TELAH disebutkan sebelumnya pada bab mengenai Kecintaan Para Sahabat kepada Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, dari Hushain bin Wahwah, bahwa Thalhah bin Bara’ radhiyallôhu ‘anhumô ketika bertemu Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam, la memeluk Rasulullah shallallôhu alaihi wasallam dan mencium kedua telapak kakinya.
Pada bagian selanjutnya akan disampaikan mengenai Abu Bakar Shiddig radhiyallôhu ‘anhu mencium dahi Nabi shallallôhu ‘alaihi wasallam setelah wafat beliau.






