Beliau bersabda, “Bernadzarlah kalian kepada Allah, jka Dia memanjangkan umur kalian sehingga kalian dapat tinggal di tempat tinggal mereka, menikahi wanita-wanita mereka, dan memperbudak anak-anak mereka, bahwa kalian akan mengucapkan tasbih sebanyak tiga puluh tiga kali, mengucapkan hamdalah sebanyak tiga puluh tiga kali, dan mengucapkan takbir sebanyak tiga puluh empat kali.”
Mereka bertanya, “Siapakah kamu?”
Beliau bersabda, “Aku adalah utusan Allah.” Kemudian beliau pergi.
Menurut riwayat Al-Kalbi, setelah beliau pergi, pamannya yang bernama Abu Lahab yang senantiasa mengikutinya berkata kepada semua orang, “Jangan kalian terima kata-katanya.”
Kemudian ketika Abu Lahab lewat, orang-orang bertanya, “Apakah kamu mengenali laki-laki ini?”
la berkata, “Ya, ia memiliki nasab yang paling tinggi di antara kabilah kami. Lalu mengenai urusan mana yang kalian tanyakan?”
Mereka pun memberitahukan kepadanya tentang apa yang beliau dakwahkan kepada mereka dan mereka berkata, “la mengaku sebagai Rasulullah.”
Abu Lahab berkata, “Ingatlah! Jangan kalian hiraukan perkataannya, karena ia gila. la berbicara tidak karuan tanpa pemikiran dari otaknya.”
Mereka berkata, “Kami sudah mengira demikian, ketika orang itu menyebutkan tentang urusan yang berkaitan dengan Persia.”
[Demikian dalam kitab Al-Bidâyah Wan-Niháyah (3/140)].