TIRMIDZI, la meng-hasan-kannya- dan Abu Ya’la meriwayatkan beserta sanadnya dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma secara marfu’ (doa Nabl shallalláhu ‘alaihi wasallam), “Ya, Allah. Ampunilah untuk Abbas dan anaknya atas dosa yang tampak maupun yang tersembunyi! Ya, Allah. urusilah anak-anaknya sepeninggalnya nanti.
Menurut riwayat Ibnu ‘Asakir dari Abu Hurairah secara marfu’ (disebutkan doa Nabi shallallâhu alalhl wasallam), “Ya, Allah. Ampunilah Abbas atas dosanya yang sembunyi-sembunyi dan yang terang-terangan, dosa yang ia tampakkan dan yang la sembunyikan, dosa yang dia lakukan dan yang dilakukan oleh keturunannya hingga hari kiamat”
Menurut riwayat ibnu ‘Asakir pula dan juga Khathib Al-8aghdadi dari Abu Hurairah secara marfu’ (disebutkan doa Nabl shallallâhu ‘alaihi wasallam), “Ya, Allah. Ampunilah Abbas, keturunan Abbas dan orang yang mencintai mereka.”
Menurut riwayat Ibnu ‘Asakir dari ‘Ashim dari ayahnya secara marfu’ (disebutkan doa Nabi shallallâhu ‘alaihl wasallam), “Abbas adalah pamanku dan seperti layaknya ayahku sendiri dan nenek moyangku yang masih hidup. Ya, Allah. Ampunilah dosanya, terimalah amal baiknya, maafkanlah keburukannya, dan perbaikilah anak keturunannya.”
Demikian dalam Kitab Muntakhab Kanzil- Ummal (5/207).
Thabarani meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Usaid As-Sa’idi radhiyallôhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallâhu ‘alaihl wasallam bersabda untuk Abbas bin Abdul-Muthalib, “Besok pagi, janganlah engkau dan anak-anakmu pergi dari rumah sampai aku datang kepada kalian, karena aku memiliki keperluan pada kalian”
Maka (keesokan paginya,) mereka pun menunggu beliau. Hingga setelah tiba waktu Duha, beliau datang menenmui mereka lalu berkata, “As-salåmu ‘alaikum”
Mereka menjawab, “Alaikumus-salâm, warahmatulâh, wabarakátuh.”
Beliau bertanya, “Bagaimana keadaan kalian pagi ini?”
Mereka menjawab, “AI-hamdulillah!” beliau berkata, “Dekat-dekatlah kalian dengan bergeser satu sama lain!”
Demikianlah, sampai ketika mereka telah duduk seperti yang beliau inginkan, beliau menyelimuti mereka dengan kain syal beliau.
Kemudian, beliau berdoa, “Wahai, Tuhankul ini pamanku, seperti ayahku sendiri, dan mereka adalah ahli baitku.
Maka tutupilah mereka dari neraka seperti aku menutupi mereka dengan kain syalku ini!”
Maka ambang pintu dan dinding-dinding rumah mengamini doa beliau dengan mengucapkan, “Amin! Amin! Amin!”
[Haitsami (9/270) berkata: Sanadnya hasan].






