Ia menunjukkan kepada jalan kebenaran, maka kami pun beriman kepadanya.
Dan kami tidak akan menyekutukan Rabb kami dengan sesuatu apapun. Kemudian Allah menurunkan firman-Nya:
قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْءَانًا عَجَبًا )
“Katakanlah (hai Muhammad), ‘Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya sekumpulan jin telah mendengarkan (Al-Qur’an)’, lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang menakjubkan.” (Al-Jin: 1).
Yang diwahyukan kepada Rasulullah ini adalah perkataan jin. [HR. Imam Bukhari (2/253-Fathul Bari) dan Muslim (14/168-Syarh Nawawi)].
Sedangkan dali-dalil yang menunjukkan keberadaan mereka masih banyak insya Allah, akan Anda temukan di sela-sela pembahasan ini
Tidak bisa dilihat, bukan berarti tidak ada
Jika tidak bisa melihat jin dijadikan dalil bahwa jin tidak ada, maka berapa banyak sesuatu yang tidak bisa kita lihat, namun pada hakikatnya ia ada.
Sebagai contoh; arus listrik tidak bisa kita lihat di kabel listrik, tetapi kita bisa tahu bahwa ia ada melalui bekas-bekasnya pada lampu atau yang lainnya.
Begitu pula udara yang tiap hari kita hirup untuk bernafas, kita tidak bisa melihatnya, tetapi kita dapat merasakan keberadaannya.
Bahkan, ruh (nyawa) yang merupakan salah satu penyangga kehidupan kita, karenanya kita bisa hidup dan tanpanya kita mati, tidak bisa kita lihat dan ketahui hakikatnya. Namun demikian, kita meyakini keberadaannya.
Asal Muasal Penciptaan Jin
Banyak sekali ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah yang secara pasti dan akurat menunjukkan bahwa bangsa jin diciptakan dari api.
Allah berfirman:
وَخَلَقَ الجَانَّ مِن مَّارِجَ مِن نَّارٍ .
“Dia menciptakan jin dari nyala api.” (Ar-Rahman: 15).
Abdullah bin Abbas mengatakan, maksud “dari nyala api” pada ayat diatas adalah “dari nyala api yang murni”.
Dalam riwayat lain, Abdullah bin Abbas mengatakan, maksudnya adalah dari ujung jilatannya. Tafsir Ibnu Katsir (4/271)






