Dari Ummul Mukminin Aisyah, ia bercerita, “Ketika Rasulullah melaksanakan shalat, tiba-tiba datanglah setan menghampiri beliau.
Maka beliau pun membantingnya lalu mencekiknya. Kemudian beliau bersabda:
حتى وجدتُ بُرْدَ لِسَانِهِ عَلَى يَدَيَّ
“Sampai-sampai saya bisa merasakan dingin lidahnya pada tanganku.”
Berdasarkan hadits ini, jelaslah bahwa sekarang ini, bangsa jin tidak berbentuk api.
Sebab jika demikian, tentu Rasulullah tidak akan merasakan dinginnya lidah setan.
Diantaranya juga adalah, sabda Rasulullah:
إِنَّ عَدُوَّ اللَّهِ إِبْلِيْسَ جَاءَ بِشِهَابٍ مِنْ نَارٍ لِيَجْعَلَهُ فِي وَجْهِي
“Sesungguhnya musuh Allah, iblis, datang membawa pelita dari api dan hendak melemparkannya ke wajahku.”
HR. Imam Muslim (5/30-Syarh An-Nawawi).
Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dan selengkapnya akan disebutkan kemudian.
Sebuah hadits riwayat Imam Malik di dalam kitab Al-Muwattha’, dari Yahya bin Said, dia berkata (hadits mursal), “Pada malam Isra’, Rasulullah melihat Jin Ifrit yang mengejar beliau sambil membawa seberkas api.
Setiap kali menoleh, beliau selalu melihatnya.
Lalu Jibril, Berkata kepada beliau, “Maukah Anda aku ajari beberapa kalimat (doa), jika Anda mengucapkannya, niscaya nyala apinya akan padam dan bahan bakarnya akan habis?” (Al-Hadits).
Dua hadits di atas menjadi bukti bahwa jika Iblis tetap berada dalam wujud apinya, tentu dia tidak membutuhkan pelita atau seberkas api.
Diantaranya juga adalah sabda Rasulullah,
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِى مِنَ الْإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِّ
“Sesungguhnya setan berpindah-pindah di dalam tubuh manusia melalui aliran darah.”
HR Imam Bukhari (4/282-Fathul Bari) dan Muslim: (14/155-Syarh An-Nawawi)
Seandainya Iblis masih pada wujud apinya, tentu dia akan membakar manusia.






