Diriwayatkan oleh ibnu Abi Hatim dengan lafal yang sebagian besarnya sama, dan di dalamnya disebutkan basmalah, bukan istiazah.
Menurut riwayat Thabarani dari Anas radhiyallahu ‘anhu secara marfu; bahwa diantara ahli La ilaha illallah ada yang masuk Neraka karena dosa-dosa mereka.
Lalu, para penyembah Lata dan ‘Uzza berkata kepada mereka, “Apa manfaat kalian dahulu mengucapkan La ilaha illallah, sedangkan kini kalian bersama kami di Neraka?”
Maka marahlah Allah terhadap orang-orang kafir itu, kemudian Allah mengeluarkan mereka (muslim), lalu melemparkan mereka ke dalam nahrul-hayah (sungai kehidupan).
Maka hilanglah bekas-bekas gosong mereka sebagaimana bulan purnama terbebas dari gerhananya.
Mereka pun masuk Surga dan di sana mereka disebut Jahannamiyyun (para mantan penghuni Jahannam).
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Thabarani dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dengan rangkaian kalimat yang lain, dengan lafal yang sebagian besarnya sama.
Dalam riwayat yang lain disebutkan: Lalu, di Surga, mereka disebut sebagai Jahannamiyyun, karena ada tanda hitam pada wajah-wajah mereka.
Maka mereka berkata, “Wahai, Tuhan kami. Hilangkanlah tanda ini dari diri kami.”
Lalu Allah menyuruh mereka agar mandi di sebatang sungai di dalam Surga, maka hilanglah tanda hitam itu dari wajah mereka.
[Demikian dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir (2/546)].
9. Selamatnya Segolongan Orang yang Mengucapkan Syahadat dari Neraka
AL-HAKIM meriwayatkan beserta sanadnya dari Rib’i dari Hudzaifah radhiyallohu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Islam akan pudar sebagaimana memudarnya warna hiasan pada pakaian, sehingga tidak diketahui apa itu puasa, sedekah, ataupun ibadah lainnya.
Kitab Allah azza wajalla akan diangkat (dihilangkan) dalam satu malam, sehingga tidak ada satu ayat pun yang masih tersisa di muka bumi.
Namun, masih ada beberapa kelompok manusia, yaitu kakek-kakek tua renta dan nenek-nenek tua renta.
Mereka berkata, ‘Kami mendapati bapak-bapak kami mengucapkan kalimat La ilaha illallah, maka kami pun mengucapkannya.”
Shilah’ bertanya kepada Hudzaifah, “Apakah kalimat La ilaha illalláh masih berguna bagi mereka sedangkan mereka tidak mengetahui apa itu puasa, sedekah, dan ibadah lainnya?”
Maka Hudzaifah berpaling darinya. Lalu, Shilah mengulang pertanyaan tersebut tiga kali, dan Hudzaifah selalu berpaling setiap kali Shilah bertanya.
Akhirnya pada yang ketiga kalinya, Hudzaifah menghadap ke arah Shilah dan berkata, “Wahai, Shilah. Kalimat tersebut akan menyelamatkan mereka dari Neraka. Kalimat tersebut akan menyelamatkan mereka dari Neraka. Kalimat tersebut akan menyelamatkan mereka dari Neraka.”
(Al-Hakim berkata: Hadis ini adalah hadis shahih menurut syarat sanad Muslim, namun Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Shahih mereka).
(Dzahabi berkata: Memenuhi syarat sanad Muslim).




