11 - Iman

Iman Kepada Allah ‘Azza Wajalla dan Sifat-sifatNya (2)

2
×

Iman Kepada Allah ‘Azza Wajalla dan Sifat-sifatNya (2)

Sebarkan artikel ini

5. Pertanyaan Seorang Yahudi Kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Tentang Kehendak dan Jawaban Beliau

BAIHAQI meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab Al-Asma’ Wash-Shifât (hal. 111) dari Auza’i, ia berkata: Seorang Yahudi datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu bertanya kepada beliau tentang kehendak.

Beliau bersabda, “Kehendak adalah milik Allah ta’ala.”

Orang itu berkata, “Aku berkehendak untuk berdiri.”

Beliau bersabda, “Berarti Allah telah menghendaki kamu untuk berdiri.”

Orang itu berkata, “Aku berkehendak untuk duduk.”

Beliau bersabda, “Berarti Allah telah menghendaki kamu untuk duduk.”

la berkata, “Aku berkehendak untuk
memotong pohon kurma ini.”

Beliau bersabda, “Berarti Allah telah menghendaki kamu untuk memotongnya.”

la berkata, “Aku berkehendak untuk membiarkan pohon kurma itu.”

Beliau bersabda, “Berarti Allah telah menghendaki kamu untuk membiarkannya.”

Kemudian datanglah Jibril ‘alaihish-shalâtu was-salâm kepada beliau, lalu berkata, “Engkau telah diberikan kepahaman tentang hujahmu seperti yang telah diberikan kepada Ibrahim ‘alaihis-salâm.”

Lalu, turunlah ayat Alquran. Beliau membaca:

مَا قَطَعْتُمْ مِنْ لِينَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةٌ عَلَى أُصُولِهَا فَإِذْنِ اللَّهِ وَلِيُخْزِيَ الْفَاسِقِينَ ﴾
(الحشر: ٥)

“Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah; dan karena Dia hendak memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr: 5).

(Baihaqi berkata: Meskipun hadis ini mursal, namun hadis-hadis maushûl yang telah disebutkan sebelumnya menguatkan makna hadis ini).

6. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Tertidur Hingga Waktu Shalat Lewat karena Kehendak Allah

BAIHAQI meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab Al-Asma’ Wash-Shift (hal. 109) dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari Hudaibiyah, beliau singgah di suatu tempat lalu bermalam disana.

Beliau berkata, “Siapa yang bersedia berjaga malam?”

Abdullah berkata, “Saya, saya.”

Beliau menyahut, “Kamu?” Dua atau tiga kali -yakni bahwa kamu akan tertidur- kemudian, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kamu yang berjaga malam.”

Maka aku (Abdullah) pun berjaga malam.

Kemudian, menjelang waktu Subuh, aku tertidur, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kami tidak terjaga kecuali dengan sebab panas matahari yang mengenai punggung kami.

Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri, dan melakukan seperti yang biasa beliau lakukan, beliau pun mengerjakan Shalat Subuh.

Kemudian, beliau bersabda, “Sesungguhnya, jika Allah ta’ala menghendaki, tentu kalian tidak akan tertidur hinggal lewat waktu Subuh.

Namun, Dia ingin peristiwa ini menjadi pelajaran bagi orang-orang sepeninggal kalian. Maka demikian ini yang hendaknya mereka lakukan.” Yakni bagi orang yang tertidur atau lupa.

Menurut riwayatnya pula dari Abdullah bin Abu Qatadah dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu dalam hadis tentang tempat wudu, ia berkata: Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya, Allah ta’âlâ mencabut ruh kalian ketika Dia menghendaki, dan mengembalikannya lagi ketika Dia menghendaki.

Orang-orang pun menunaikan hajat, dan berwudu hingga matahari bersinar terang. Kemudian, beliau berdiri mengerjakan shalat.

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Bukhari dalam Kitab Shahih dengan sanad ini, sebagaimana dikatakan oleh Baihaqi.

7. Pertanyaan Seorang Yahudi Kepada Umar Bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu Tentang Ayat yang Artinya, “Dan (Kepada) Surga yang Luasnya Seluas Langit dan Bumi.”
.
‘ABD bin Humaid, Ibnu Jarir, Ibnul-Mundzir, dan Ibnu Khusru -dan hadis ini menurut lafalnya meriwayatkan beserta sanadnya dari Thariq bin Syihab, ia berkata: Seorang Yahudi datang kepada Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, lalu berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang firman Allah ta’ala:

وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ ) (آل عمران: ۱۳۳)

“Dan (kepada) surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS. Ali Imran: 133).

Lalu, di manakah neraka?”

Maka Umar berkata kepada para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, “Jawablah.”

Namun, mereka tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan itu. Umar berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang siang, apabila malam datang memenuhi bumi, maka di manakah siang?”

Si Yahudi berkata, “Terserah kehendak Allah.”

Maka Umar pun berkata, “Neraka pun terserah kehendak Allah.”

Orang Yahudi itu berkata, “Wahai, Amirul Mukminin! Demi Zat yang jiwaku ada di tanganNya, apa yang engkau sampaikan itu terdapat dalam Kitabullah (Taurat) yang telah diturunkan.”

[Demikian dalam kitab Konzul- ‘Ummål (7/277)].

8. Ali Radhiyallahu ‘Anhu Mendebat Seseorang yang Berbicara Mengenai Kehendak Allah

IBNU ABI HATIM meriwayatkan beserta sanadnya dari Ja’far bin Muhammad dari ayahnya dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Suatu ketika dikatakan kepada Ali, “Di sini ada seseorang yang berbicara mengenai kehendak Allah.”

Lalu, Ali berkata kepadanya, “Hai, hamba Allah! Allah menciptakanmu sebagaimana yang Dia kehendaki atau sebagaimana yang kamu kehendaki?”

Orang itu menjawab, “Sebagaimana yang Dia kehendaki.”

Ali bertanya lagi, “Dia membuatmu sakit apabila Dia menghendaki atau apabila kamu kehendaki?”

Orang itu menjawab, “Apabila Dia menghendaki.”

la bertanya lagi, “Dia menyembuhkanmu apabila Dia menghendaki atau apabila kamu kehendaki?”

Orang itu menjawab, “Apabila Dia menghendaki.”

la bertanya lagi, “Dia menempatkanmu di tempat yang kamu kehendaki atau yang Dia kehendaki?”

Orang itu menjawab, “Di tempat yang Dia kehendaki.”

Ali berkata, “Demi Allah, seandainya kamu menjawab selain jawaban itu, tentu aku akan menebas tempat melekatnya kedua matamu dengan pedang.”

[Demikian dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir (3/211)].

9. Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Kepada Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum, “Itu Bukanlah Kemunafikan.”

BAZZAR meriwayatkan beserta sanadnya di dalam musnadnya dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Para sahabat radhiyallahu ‘anhum berkata, “Wahai, Rasulullah. Ketika kami berada bersamamu, keadaan hati kami begitu rupa, namun setelah kami meninggalkan engkau, keadaan hati kami telah berubah.”

Beliau bertanya, “Bagaimana hubungan kalian dengan Tuhan kalian?”

Mereka berkata, “Allah adalah Tuhan kami dalam keadaan tersembunyi maupun terang-terangan.”

Beliau bersabda, “(Jika demikian,) itu bukanlah kemunafikan.”

[Demikian dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir (4/397)].

10. Kisah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Bersama Seorang Arab Badui Mengenai Perhitungan Amal

IBNU NAJJAR meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Seorang Arab Badui datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Siapa yang akan melakukan hisab terhadap seluruh makhluk pada hari kiamat, wahai Rasulullah?”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Allah ‘azza wajalla.”

Lalu, orang Arab Badui itu berkata, “Kita pasti selamat, demi Tuhannya ka’bah!”

Beliau pun bertanya, “Bagaimana bisa begitu, hai Badui?”

la berkata, “Apabila sang pemurah berkuasa, pasti memberi ampunan.”

[Demikian dalam Kitab Kanzul-‘Ummâl (7/270)].

error: Allahu Akbar