11 - Iman

Hakikat dan Kesempurnaan Iman

2
×

Hakikat dan Kesempurnaan Iman

Sebarkan artikel ini

1. Pertanyaan Nabi SAW. Kepada Harits Bin Malik RA., “Bagaimana Keadaanmu Pagi Ini?” dan Jawabannya

IBNU ASAKIR meriwayatkan beserta sanadnya dari Anas rodhiyallohu ‘anhu, ia berkata: Suatu kali Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam masuk ke masjid ketika Harits bin Malik rodhiyallohu ‘anhu sedang tidur.

Lalu, beliau menggerakkannya dengan kaki dan berkata, “Angkatlah kepalamu.”

Ia pun mengangkat kepalanya, lalu berkata, “Saya rela mengorbankan ayah dan ibuku demi engkau, wahai Rasulullah!”

Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai Harits bin Malik?”

Harits menjawab, “Wahai Rasulullah, Pagi ini saya merasa sebagai seorang mukmin yang sejati.”

Beliau bersabda, “Setiap kebenaran memerlukan bukti, lalu apa bukti ucapanmu itu?”

Harits berkata, “Saya menjauhkan diri dari dunia, saya menahan haus di siang hari. Saya berjaga di malam hari. Dan seakan-akan saya melihat singgasana Tuhanku. Seakan-akan saya melihat ahli surga saling berkunjung di dalamnya, dan ahli neraka saling berteriak.”

Lalu, Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Kamu orang yang hatinya disinari oleh Allah. Kamu sudah paham, maka teruslah kamu menetapinya.”

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ‘Askari dalam Litab Al-Amtsal dari Anas dengan lafal yang sebagian besarnya sama, hanya saja ia menyebut namanya Haritsah bin Nu’man.

Dalam riwayatnya disebutkan: Lalu, beliau bersabda, “Kamu sudah mengerti, maka teruslah kamu menetapinya.”

Kemudian, beliau bersabda, “Kamu seorang hamba yang hatinya disinari iman oleh Allah.”

Lalu, Harits berkata, “Wahai, Nabiyyulläh. Doakanlah saya agar mati syahid.”

Maka beliau pun mendoakannya. Kemudian, pada suatu hari terdengar seruan, “Wahal, tentara-tentara Allah! Naiklah ke kuda-kuda kalian (untuk berjihad).”

error: Allahu Akbar