1. Seorang Sahabat Radhiyallahu ‘Anhu Banyak Membaca Surat Al-Ikhlash
BAIHAQI meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab Al-Asma’ Wash-Shifat (hal. 208) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhâ, bahwa suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menugaskan seseorang untuk memimpin sebuah pasukan kecil.
Ketika mengimami shalat dengan para sahabatnya, ia membaca surat lalu mengakhirinya dengan qul huwallahu ahad (surat Al-Ikhlash).
Setelah kembali, orang-orang menceritakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Lalu, beliau bersabda, “Tanyalah ia, untuk apa melakukan hal seperti itu?”
Maka mereka pun bertanya kepadanya. Ia menjawab, “Karena surat itu adalah sifat Allah yang Maha Pemurah. Aku pun senang membacanya.”
Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah ‘azza wajalla mencintainya.”
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah, sebagaimana dikatakan oleh Baihaqi.
2. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Membenarkan Seorang Pendeta Yahudi yang Berbicara Mengenai Allah Subhanahu Wata’ala
BAIHAQI meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab Al-Asma Wash-Shifat (hal. 245) dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Seorang pendeta datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, “Wahai, Muhammad-atau wahai Rasulullah- sesungguhnya, Allah meletakkan langit diatas jari, bumi diatas jari, gunung-gunung dan pepohonan diatas jari, air dan tanah diatas jari, serta seluruh makhluk lainnya diatas jari.
Lalu Dia mengguncangnya dan berkata, ‘Akulah Sang Raja’.”
Abdullah berkata: Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tertawa sehingga terlihat gigi gerahamnya karena membenarkan perkataan si pendeta.
Kemudian, beliau membaca ayat:
وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ
سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ ﴾ (الزمر: ١٧)
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kananNya. Mahasuci Tuhan dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Az-Zumar: 67).
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Bukhari dan Muslim dalam Kitab Shahih mereka, sebagaimana dikatakan oleh Baihaqi.
3. Hadis Anas dan Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhumâ Tentang Bagaimana Allah Menggiring Manusia
BAIHAQI meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab Al-Asma’ Wash-Shifât (hal. 356) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika Nabiyullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Bagaimana orang kafir digiring dengan diseret atas mukanya pada hari kiamat?”
Beliau bersabda, “Dia Yang telah membuatnya berjalan di atas kedua kakinya di dunia mampu untuk membuatnya berjalan di atas mukanya pada hari kiamat.”
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasa’i, Ibnu Abi Hatim, Al-Hakim dan yang lainnya dengan lafal yang sebagian besarnya sama dari Anas, -sebagaimana dalam Kitab Kanzul-‘Ummal (7/280).
Ahmad meriwayatkan beserta sanadnya dari Hudzaifah bin Asid, ia berkata: Suatu ketika Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berdiri lalu berkata, “Wahai, Bani Ghifar!Berkatalah kalian, namun janganlah kalian bersumpah! Orang yang benar yang dapat dibenarkan (yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) telah memberitahuku bahwa manusia akan dikumpulkan dalam tiga kelompok: Satu kelompok berkendara sambil makan dan mengenakan pakaian, satu kelompok lagi berjalan cepat, dan satu kelompok lagi diseret oleh para malaikat atas wajah mereka dan digiring ke neraka.”
Lalu, seseorang di antara mereka berkata, “Dua kelompok diantaranya telah kami ketahui. Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang berjalan cepat?”
Beliau bersabda, “Allah ‘azza wajalla menimpakan penyakit kepada hewan tunggangannya sehingga (mati dan) tidak ada tunggangan yang tersisa.
Bahkan ada seseorang yang memiliki sebuah taman yang indah. Ia pun ingin menukarnya dengan seekor unta tua berpelana, maka tidak ada yang mampu menyediakannya.”
[Demikian dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir (3/65)].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Al-Hakim dari Hudzaifah dari Abu Dzar dengan lafal yang sebagian besarnya sama.
(Al-Hakim berkata: Ini adalah hadis yang sanadnya shahih sampai kepada Walid bin Jumai’, namun Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya beserta sanadnya dalam Kitab Shahih mereka).
(Dzahabi berkata: Walid telah digunakan riwayatnya oleh Muslim dengan mutâba’ah, dan hadisnya diterima sebagai hujah oleh Nasa’i)
4. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Menyuruh Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Agar Mengucapkan, “Ma Sya’allahu Wahdah, Lâ Syarika Lah.”
BAIHAQI meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab Al-Asma’ Wash-Shifât (hal. 110) dari Thufail bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu -saudara seibu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhâ- bahwa dalam mimpinya ia bertemu dengan beberapa orang Nasrani, lalu ia berkata, “Sebaik-baik kaum adalah kalian seandainya kalian tidak menganggap bahwa Al-Masih (Isa) adalah anak Allah.”
Orang Nasrani itu berkata, “Kalian adalah kaum terbaik seandainya kalian tidak mengucapkan: Mâ sya’allah wasya’a muhammad (semua ini terjadi atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad).”
Kemudian, ia bertemu dengan beberapa orang Yahudi, lalu ia berkata, “Kalian adalah kaum terbaik seandainya kalian tidak menganggap bahwa ‘Uzair adalah anak Allah.”
Orang Yahudi itu berkata, “Sedangkan kalian adalah orang- orang yang mengucapkan: Mâ sya’allah wasya’a muhammad (semua ini terjadi atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad).”
Kemudian, Thufail datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menceritakan mimpinya itu kepada beliau.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu memberitahukannya kepada orang lain setelah itu?”
la menjawab, “Ya.”
Maka beliau memuji Allah ta’âlâ, kemudian bersabda, “Saudara kalian ini telah bermimpi seperti yang telah sampai kepada kalian. Maka janganlah kalian mengucapkan seperti itu (Mâ sya’allah wasya’a muhammad), tetapi ucapkanlah:
مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ.
“Segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah semata-mata, tidak ada sekutu bagi- Nya.”
Menurut riwayatnya pula dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Salah seorang dari kalangan kaum muslimin bermimpi dalam tidurnya bahwa ia bertemu dengan salah seorang Ahlulkitab.
Lalu, Ahlulkitab itu berkata, “Sebaik-baik kaum adalah kalian seandainya kalian tidak berbuat syirik dengan mengucapkan: Másya’allah wasya’a muhammad (semua ini terjadi atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad).”
la pun menceritakan mimpinya itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Maka beliau bersabda, “Aku pun tidak suka apabila kalian mengucapkan kalimat itu.
Namun, ucapkanlah: Má sya’allah tsumma syâ’a fulân (semua ini terjadi atas kehendak Allah, kemudian kehendak si Fulan).”
Baihaqi meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab Al-Asma’ Wash-Shifat (hal.110) dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhumâ, ia berkata: Seseorang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berbicara dengannya mengenai suatu perkara.
Lalu, orang itu berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Masya’allah wasyi’ta (semua ini terjadi atas kehendak Allah dan kehendakmu).
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apakah kamu menyamakan aku dengan Allah? Segala sesuatu terjadi hanya dengan kehendak Allah semata.”




