3. lbnu Rawahah dan Hassan Radhiyallâhu Anhuma Menangis Ketika Turun Ayat (yang Artinya), “Dan Penyair-Penyair Itu Diikuti oleh Orang-orang yang Sesat.”
AL-HAKIM meriwayatkan beserta sanadnya (3/488) dari Abul-Hasan bekas budak Bani Naufal, bahwa ketika turun Surat Asy-Syu’arâ’ (Thaa Siin Miim), Abdullah bin Rawahah dan Hassan bin Tsabit radhiyallâhu ‘anhumâ datang kepada Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam seraya menangis.
Beliau pun membacakan kepada mereka: “Dan penyair-penyair itu dikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap-tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh.” (QS. Asy-Syu’ara: 224-22 7).
Beliau bersabda, “Itu adalah kalian.”
“Dan banyak menyebut Allah.” (QS. Asy-Syu’arâ’: 227).
Beliau bersabda, “itu adalah kalian.”
“Dan mendapat kemenangan sesudah menderita kelaliman.'” (QS. Asy-Syu’arâ : 227).
Beliau bersabda, “ltu adalah kalian.”
4. Penduduk Yaman Menangis Ketika Mereka Mendengar Alquran Pada Masa Khilafah Abu Bakar Radhiyallâhu ‘Anhu
ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab Hilyatul-Auliya’ dari Abu Shalih, ia berkata: Ketika penduduk Yaman datang (ke Madinah) pada masa Khilafah Abu Bakar, dan mendengar bacaan Alquran, mereka pun menangis.
Lalu, Abu Bakar berkata, “Seperti ini kami dahulu. Kemudian, hati pun menjadi keras.”
Abu Nu’aim berkata: Maksud perkataan Abu Bakar: “Hati pun menjadi keras” adalah: Hati menjadi kuat dan tenang dengan ma’rifatullâh ta âlâ.
[Demikian dalam kitab Kanzul- Ummâl (1/224)].





