Maka beliau mengirim utusan untuk meminta sesuatu kepada salah satu istrinya, lalu ia mengatakan, “Tidak ada. Demi Zat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, saya hanya memiliki air.”
Kemudian, beliau mengirim utusan kepada istrinya yang lain, namun mendapatkan jawaban yang sama. Hingga akhirnya semua istri beliau memberikan jawaban yang sama. Mereka mengatakan, “Tidak ada. Demi Zat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, saya hanya memiliki air.”
Kemudian, beliau bersabda, “Barangsiapa malam ini bersedia menjamu tamu ini, maka ia akan mendapatkan rahmat dari Allah.”
Maka berdirilah seorang sahabat Anshar seraya berkata, “Saya bersedia, wahai Rasulullah!”
Kemudian, ia membawa tamu itu ke rumahnya, lalu bertanya kepada istrinya, “Apakah kamu mempunyai sesuatu (makanan)?”
Ia menjawab, “Tidak ada selain makanan untuk anak-anakku.”
Sahabat Anshar itu berkata, “Bujuklah mereka dengan sesuatu. Lalu, apabila mereka ingin makan, tidurkanlah mereka.
Kemudian, bila tamu kita sudah masuk, matikanlah lampu dan perlihatkan kepadanya seolah-olah kita sedang makan.”
Dalam riwayat yang lain, apabila ia telah duduk untuk makan, pergilah kamu menuju lampu untuk memadamkannya.”
Abu Hurairah melanjutkan: Kemudian, mereka pun duduk. Tamu itu makan, sementara mereka melewati malam hari dalam keadaan lapar.
Keesokan harinya, sahabat Anshar itu menjumpai Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Allah kagum (rida) dengan apa yang telah kalian perbuat untuk tamu kalian.”
Dalam riwayat yang lain ada tambahan: Lalu turunlah ayat:
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). (QS. al-Hasyr: 9).
[Demikian dalam kitab at-Targhib wat-Tarhib (4/147)].






