5 - NusrohUpdate

Perang melawan Bani Qainuqa, Ubadah bin Shamit Putuskan Persekutuan demi Setia pada Nabi dan Sahabatnya

3
×

Perang melawan Bani Qainuqa, Ubadah bin Shamit Putuskan Persekutuan demi Setia pada Nabi dan Sahabatnya

Sebarkan artikel ini

IBNU ISHAQ meriwayatkan beserta sanadnya dengan sanad hasan, dari Ibnu ‘Abbas radhiyallâhu ‘anhumâ, ia berkata: Setelah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam berhasil mengalahkan pasukan Quraisy dalam perang Badar, beliau mengumpulkan orang-orang Yahudi (Madinah) di pasar kabilah Bani Qainuqa, kemudian beliau menyeru mereka, “Wahai orang-orang Yahudi! Masuklah kalian ke dalam agama Islam sebelum kalian mengalami nasib yang sama seperti yang
dialami oleh orang-orang Quraisy dalam perang Badar.”

Namun orang-orang Yahudi berkata, “Orang-orang Quraisy itu tidak memahami strategi perang.

Jika kalian berperang melawan kami, tentu kalian akan mengetahui bahwa kami adalah laki-laki yang sejati.”

Lalu Allah ta’âlâ menurunkan ayat:

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, ‘Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahanam.

Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya.’ Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur).

Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka.

Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (QS. Âli ‘Imrân: 12-13).

[Demikian dalam kitab Fathul-Bari (7/334)].

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Abu Dawud, dari jalur sanad Ibnu Ishaq dengan lafal yang semakna.

Dalam hadisnya disebutkan: Orang-orang Yahudi berkata, “Hai Muhammad! (shallallahu ‘alaihi wasallam), janganlah kamu berbangga diri karena telah membunuh beberapa orang dari Kabilah Quraisy yang tidak berpengalaman dan tidak memahami strategi perang.

Jika kamu berperang melawan kami, tentu kalian akan mengetahui bahwa kami adalah laki-laki yang sejati, dan bahwa kamu belum pernah bertemu dengan orang-orang seperti kami (di medan perang).”

Menurut riwayat Ibnu Jarir, sebagaimana dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir (2/69), diriwayatkan dari Zuhri, ia berkata: Setelah kaum musyrikin mengalami kekalahan
di Badar, kaum muslimin berkata kepada kawan-kawan dekat mereka dari kalangan Yahudi, “Masuklah kalian ke dalam Islam sebelum Allah menimpakan kepada kalian
seperti apa yang terjadi pada Perang Badar.”

Maka Malik bin Shaif berkata, “Apakah kalian berbangga diri karena telah mengalahkan sekelompok orang Quraisy yang tidak memiliki banyak pengetahuan tentang strategi perang?

Sungguh! Seandainya kami bertekad untuk menghimpun semua kekuatan kami untuk melawan kalian, tentu kalian tidak akan mampu melawan kami.”

Lalu Ubadah bin Shamit berkata, “Wahai Rasulullah! Para sekutuku dari kalangan Yahudi memiliki jiwa yang kuat, senjata yang banyak, dan kekuatan yang besar.

Namun demikian, aku melepaskan persekutuanku dengan mereka untuk menjaga kesetiaanku kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak memiliki pelindung selain Allah dan Rasul-Nya.”

Lalu, Abdullah bin Ubay berkata, “Namun aku tidak melepaskan persekutuanku dengan orang-orang Yahudi, karena aku selalu membutuhkan mereka.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hai Abu Hubab! Kamu telah memilih untuk melangsungkan persekutuanmu dengan orang-orang Yahudi, tidak seperti Ubadah bin Shamit. Maka kamu boleh melakukannya, sedangkan Ubadah tidak boleh.”

Abdullah bin Ubay berkata, “Jika demikian, aku akan meneruskan persekutuanku dengan mereka.”

Lalu Allah menurunkan ayat-ayat berikut ini:

“Hai Orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.

Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.

Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim…

Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah 51-67)

Menurut riwayat Ibnu Ishaq, dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana dalam Kitab Al-Biddyah (4/4) disebutkan bahwa ia berkata: Ketika Kabilah Bani Qainuqa memulai permusuhan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abdullah bin Ubay bin Salul memihak dan membela mereka.

Lalu, Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu pergi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam [Ubadah berasal dari Bani Auf. Ia juga merupakan sekutu Bani Qainuqa seperti halnya Abdullah bin Ubay. la pun memutuskan hubungan dengan mereka dan memihak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, la juga melepaskan diri dari persekutuan yang telah ia bina dengan mereka, demi kesetiaannya kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam].

Ubadah bin Shamit mengatakan, “Wahai Rasulullah! Aku memilih untuk menyatakan kesetiaanku kepada Allah, Rasul-Nya, dan kaum mukminin, serta melepaskan diri dari persekutuan dan kesetiaan dengan orang-orang kafir.”

Berkenaan dengan kejadian Ubadah dan Abdullah bin Ubay, maka turunlah ayat-ayat berikut dari Surat Al-Ma’idah:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.

Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan
mereka.

Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim…. Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Ma’idah: 51-56).

error: Allahu Akbar