6 - JihadUpdate

Ancaman terhadap Orang yang Memilih Bersama Keluarga danHartanya namun Meninggalkan Jibad

6
×

Ancaman terhadap Orang yang Memilih Bersama Keluarga danHartanya namun Meninggalkan Jibad

Sebarkan artikel ini

BAIHAQI (9/45) meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Imran radhiyalahu ‘anhu, ia berkata: Ketika kami berada di Konstantinopel bersama pasukan Mesir yang dipimpin oleh ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallâhu ‘anhu, sedangkan pasukan Syam dipimpin oleh seseorang-yang ia maksud adalah Fadhalah bin ‘Ubaid radhiyalahu ‘anhu, keluarlah dari kota itu satu kesatuan tentara Romawi yang sangat besar jumlahnya.

Maka kami mengatur barisan untuk menghadapi mereka. Lalu seorang tentara dari pasukan kaum muslimin menyerang tentara Romawi sedemikian rupa, hingga berhasil menerobos barisan mereka.

Lalu ia kembali ke barisannya semula. Maka tentara-tentara kaum muslimin berteriak, “Subhānallah! la telah menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan.”

Kemudian Abu Ayyub al-Ansari radhiyalâhu (anhu-salah seorang sahabat Rasulullah shallallàhu alaihi wasallam- berdiri dan berkata, “Wahai sekalian manusia! Kalian telah menafsirkan ayat yang kalian maksud dengan penafsiran seperti itu.

Padahal sebenarnya ayat ini diturunkan berkenaan dengan kami, orang-orang Anshar.

Setelah Allah menguatkan agama-Nya dan jumlah orang-orang yang membela agama-Nya bertambah banyak, kami berkata kepada sesama kami tanpa sepengetahuan Rasulullah shallalláhu alaihi wasallam, Kebun-kebun kita telah rusak (karena terbengkalai). Alangkah baiknya jika kita tinggal di kampung halaman saja untuk mengurusi dan membenahi bagian kebun kita yang sudah rusak tersebut.

Maka Allah ‘ozza wajalla menurunkan satu ayat guna menghalangi rencana kami itu.

Dia berfirman: “Dan belanjakanlah (harta bendarmu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yong berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195).

Jadi, kebinasaan yang dimaksud adalah bermukim (di Madinah) yang kami rencanakan guna membenahi kebun kami. Kemudian kami diperintahkan untuk berangkat berperang”

Oleh karena itu, Abu Ayyub radhiyallâhu ‘anhu senantiasa berangkat berperang di jalan Allah hingga Allah ‘azza wajalla mengambil nyawanya.

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Baihaqi (9/99) dari rangkaian sanad yang lain, dari Abu ‘Imran rodhiyalldhu ‘anhu, ia berkata: Ketika itu kami sedang berperang melawan Konstantinopel bersama pasukan yang dipimpin oleh Abdurrahman bin Khalid bin Walid.

Sementara itu, pasukan Romawi berdiri membelakangi tembok kota tersebut.

Lalu seorang tentara dari pasukan kaum muslimin menyerang ke barisan musuh sendirian. Maka tentara-tentara kaum muslimin berseru, “Berhenti! Berhenti! Lô ilaha illallâh! Orang itu menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan!”

Lalu Abu Ayyub radhiyalldhu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya ayat yang kalian maksud diturunkan berkenaan dengan kami, orang-orang Anshar.

Setelah Allah menolong Nabi-Nya dan memenangkan Islam, kami pun berkata, ‘Marilah kita tinggal di kampung halaman untuk mengurusi dan membenahi kebun-kebun kita.’

Maka Allah subhânahû wata’âlâ mewahyukan ayat, ‘Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.’

Yang dimaksud menjatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan adalah tinggal di kampung halaman untuk mengurusi dan membenahi kebun-kebun kita serta meninggalkan jihad di jalan Allah.”

Lalu Abu Ayyub senantiasa berjihad di jalan Allah hingga akhirnya ia dikebumikan di Konstantinopel.

Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu ‘Imran radhiyalldhu ‘anhu, ia berkata: Sewaktu perang di Konstantinopel, seorang lelaki dari kalangan Muhajirin menyerang barisan musuh sendirian hingga berhasil menjebol barisan musuh.

Ketika itu, bersama kami ada Abu Ayyub Al-Ansari radhiyalldhu ‘anhu.

Melihat tindakan lelaki itu, beberapa orang berkata, “Orang itu telah menjatuhkan dirinya ke dalam kebinasaan.”

Lalu Abu Ayyub radhiyalldhu ‘anhu berkata, “Kami lebih mengetahui tentang ayat ini. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan diri kami. Kami telah menemani Rasulullah shallâlâhu ‘alaihi wasallam, mengikuti banyak peperangan bersama beliau, serta menolong beliau.

Ketika agama Islam telah tersebar dan mendapatkan kemenımgan, maka kami -orang-orang Anshar- mengadakan pertemuan untuk mempererat hubungan baik di antara kami karena Islam.

Kami pun berkata, ‘Allah telah memuliakan kita dengan menjadikan kita sebagai sahabat Nabi-Nya shallâlâhu ‘alaihi wasallam dan membantunya sehingga agama Islam tersebar luas dan bertambah banyak pengikutnya.

Dahulu, kita telah mengutamakan beliau melebihi istri, harta benda, dan anak-anak kita, sedangkan kini peperangan telah usai.

Maka sebaiknya kita kembali kepada istri dan anak anak kita, lalu tinggal bersama mereka.’

Maka turunlah ayat Al-Qur’an mengenai kami:

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah: 195)

Jadi, kebinasaan yang dimaksud adalah tinggal bersama keluarga dan harta benda, serta meninggalkan jihad.”

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ‘Abd bin Humāid dalam kitab tafsirnya, juga Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mardawaih, Abu Ya’la dalam Musnad-nya, Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya, dan Al-Hakim dalam Mustadrak-nya. -Tirmidzi berkata: Hadis hasan shahih gharib. Al-Hakim berkata: Ini hadis sahih menurut syarat sanad Bukhari dan Muslim, namun mereka tidak meriwayatkannya beserta sanadnya dalam kitab Shahih mereka. -[Demikian dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir (1/229)].

error: Allahu Akbar