Diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Ibnu Sa’d (1/91) dengan lafal yang sebagian besarnya sama.
Menurut riwayat Baihaqi dari ‘Urwah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Seseorang bertanya kepada ‘Aisyah, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga melakukan pekerjaan (rumah tangga) di rumah?” ‘
Aisyah berkata, “Ya, beliau biasa menambal sandalnya, menjahit pakaiannya sebagaimana yang kalian lakukan dinrumah,”
Menurut riwayat Baihaqi dari ‘Amrah, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah, “Apakah yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di rumah?”
‘Aisyah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti halnya orang pada umumnya. Beliau biasa mencari kutu pakaiannya, memerah susu kambingnya, dan melayani keperluannya sendiri.”
Diriwayatkan pula oleh Tirmidzi dalam Kitab asy-Syama’il. [Demikian dalam Kitab al-Bidayah wan-Nihayah (6/44)].
10. Perkataan ibnu Abbas dan Jabir Radhiyallahu Anhum Mengenal Sifat Rendah Hati Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam
MENURUT riwayat Quzwaini dengan sanad dhaif dari ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyerahkan urusan air wudunya kepada seorang pun, tidak pula urusan sedekahnya yang hendak beliau berikan. Beliau yang mengurusinya sendiri.
[Demikian dalam kitab Jam’ul Fawa’id (2/180)].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Bukhari dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, la berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah datang menjengukku tidak dengan menunggang baghal ataupun kuda non-Arab.
[Demikian dalam Kitab Shifatush Shafwah (1/65)].
Tirmidzi meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Asy Syama’il (hat. 24) dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam pernah pergi haji dengan menunggang hewan di atas pelana yang usang, dan diatasnya dilapisi kain berbulu yang harganya tidak mencapai empat dirham.
Lalu, beliau berdoa, “Ya, Allah. Jadikanlah hajiku ini sebagai haji yang tidak mengandung riya’ ataupun sum’ah.”
11. Sikap Rendah Hati Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Ketika Memasuki Kota Makah Pada Tahun Terjadinya Fathu Makkah
ABU YA’LA meriwayatkan beserta sanadnya dari Anas radhiyallohu anhu, la berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki Kota Makah, orang-orang memandang beliau dari tempat-tempat yang tinggi. Beliau meletakkan kepalanya di atas pelananya karena tawaduk.
[Haitsami (6/169) berkata: Dalam sanadnya terdapat Abdullah bin Abu Bakar al-Muqaddami, seorang rawi yang dha’if].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Baihaqi dari Anas, la berkata: Pada hari terjadinya Fathu Makkah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasuki Kota Makah, sementara dagunya menempel hewan tunggangannya karena tawadu’.
Ibnu Ishaq berkata: Aku diberitahu oleh Abdullah bin Abu Bakar, bahwa setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sampai di Dzi Thuwa, beliau berdiri di atas hewan tunggangannya dengan mengenakan serban berupa kain katun buatan Yaman berwarna merah tanpa dililitkan ke leher.






