10 - Akhlak

Beberapa Kisah Tentang Kerendahan Hati Nabi SAW. Sebagai Pelajaran Umat (2)

194
×

Beberapa Kisah Tentang Kerendahan Hati Nabi SAW. Sebagai Pelajaran Umat (2)

Sebarkan artikel ini

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menundukkan kepalanya karena merendahkan diri kepada Allah, ketika melihat kemuliaan yang Allah berikan kepadanya berupa kemenangan, sampai-sampai jenggotnya nyaris menyentuh bagian depan pelana.

[Demikian dalam Kitab al-Bidayah wan-Nihayah (4/293)].

12. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Melarang Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu Membawakan Barang-barang Beliau dan Melarang Pedagang Mencium Tangan Beliau

THABRANI dalam kitab al-Mu’jamul-Ausath dan Abu Ya’la meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa ia berkata: Pada suatu hari, aku masuk pasar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Lalu, beliau duduk di tempat para pedagang pakaian, kemudian beliau membeli celana panjang seharga empat dirham.

Sementara para pedagang di pasar memiliki seorang tukang timbang. Lalu, la berkata kepadanya, “Timbanglah (uang dirhamku) dan lebihkan beratnya.”

Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil celana panjang tersebut, maka aku pun bergegas untuk membawakannya, namun beliau bersabda, “Pemilik barang lebih berhak untuk membawa barangnya sendiri, kecuali jika la lemah sehingga tidak mampu membawanya, maka saudaranya sesama muslim bisa menolongnya.

Lalu, aku berkata, “Wahai, Rasulullah. Apakah engkau juga memakai celana panjang?”

Beliau bersabda, “Ya, baik di rumah maupun dalam perjalanan, baik siang hari maupun malam hari, karena aku diperintahkan untuk menutup aurat.

Aku tidak mendapati sesuatu yang dapat menutupi aurat melebihi celana panjang”

[Thabarani meriwayatkan beserta sanadnya dari jalan ibnu Ziyad Al-Wasithi].

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Ahmad dan dalam sanadnya terdapat ibnu Ziyad. la dan gurunya dhaif. (Demikian dalam kitab Nasimur-Riyadh (2/105).

Penulisnya berkata: Ke-dha’if-annya tertutupi dengan adanya ittiba’ terhadapnya.

Dari hadis tersebut dapat diketahui bahwa anggapan salah ibnul-Qayyim tidak memiliki alasan yang dapat dibenarkan.

Hadis tersebut disebutkan pula oleh Haitsami dalam Kitab Majma’uz-Zawd’id dari Abu Hurairah dengan lafal yang sama, dan menambahkan: Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Timbanglah (uang dirhamku) dan lebihkan beratnya.”

Lalu, tukang timbang itu berkata, “Ini adalah kata-kata yang tidak pernah aku dengar dari siapa pun.”

Abu Hurairah berkata: Lalu, aku berkata kepadanya, “Cukuplah kamu dianggap bodoh dan tidak beradab dalam agamamu bahwa kamu tidak mengenali Nabimu!!”

Maka tukang timbangan itu membuang timbangannya dan segera memegang tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menciumnya.

Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menarik tangannya dan berkata, “Apa ini? Perbuatan ini hanya dilakukan oleh orang-orang non-Arab terhadap raja-raja mereka. Aku bukanlah seorang raja. Aku hanyalah orang biasa seperti kalian.”

Kemudian, tukang timbang itu menimbang (dirham beliau) dengan melebihkan beratnya, lalu mengambilnya…-Lalu perawi melanjutkan hadisnya dengan lafal yang sama.

[Haitsami berkata: Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Thabarani dalam Kitab al-Mu’jamul-Ausath, dalam sanadnya terdapat Yusuf bin Ziyad, seorang rawi yang dha’if).

error: Allahu Akbar