10 - Akhlak

Beberapa Kisah Tentang Kerendahan Hati Nabi SAW. Sebagai Pelajaran Umat

158
×

Beberapa Kisah Tentang Kerendahan Hati Nabi SAW. Sebagai Pelajaran Umat

Sebarkan artikel ini

6. Kisah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan Seorang Wanita

THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Ada seorang wanita yang suka berbicara cabul kepada kaum lelaki dan suka berkata vulgar.

Suatu ketika ia lewat di depan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang makan tsarid di sebuah tempat yang tinggi.

Lalu, wanita itu berkata, “Lihatlah ia! Duduk seperti duduknya hamba, dan makan seperti makannya hamba.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hamba mana yang lebih baik penghambaannya (kepada Allah) daripada aku?”

Wanita itu berkata lagi, “la makan dan tidak memberiku makan.”

Beliau berkata, “Makanlah!”

la berkata, “Berilah aku dengan tanganmu!”

Maka beliau memberinya dengan tangan beliau. Lalu, ia berkata, “Beri aku makanan yang ada di mulutmu?”

Beliau pun memberinya, lalu ia memakannya. Maka ia pun dikuasai sifat malu, sehingga tidak suka berbicara cabul kepada seorang pun sampai meninggal.

[Sanadnya dha’if -sebagaimana dikatakan oleh Haitsami (9/21)].

7. Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Kepada Seseorang yang Gemetar di Hadapannya

THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang datang ke hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka badannya gemetar.

Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Santailah kamu, Aku bukan seorang raja. Aku hanya anak seorang wanita dari Kabilah Quraisy yang biasa makan dendeng.”

[Haitsami (9/20) berkata: Dalam sanadnya terdapat para perawi yang tidak aku kenal].

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Baihaqi dari ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari terjadinya Fathu Makkah, lalu badannya gemetar.

-Lalu, perawi meneruskan riwayatnya dengan lafal yang sebagian besarnya sama, -sebagaimana dalam Kitab Al-Bidayah (4/293).

Bazar meriwayatkan beserta sanadnya dari ‘Amir bin Rabi’ah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku pernah pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ke masjid, maka putuslah jepit sandalnya.

Lalu, aku mengambil sandal itu untuk memperbaikinya. beliau mengambilnya dari tanganku dan bersabda, “Ini termasuk mementingkan diri sendiri, dan aku tidak suka mementingkan diri sendiri.”

[Haitsami (9/21) berkata: Dalam sanadnya terdapat perawi yang tidak aku kenal].

error: Allahu Akbar