13 - Ilmu

Menjelang Kematian, Muadz Ingatkan Orang yang Menangisinya tentang Iman dan Ilmu

3
×

Menjelang Kematian, Muadz Ingatkan Orang yang Menangisinya tentang Iman dan Ilmu

Sebarkan artikel ini

ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya’ (1/234) dari Abdullah bin Salamah, ia berkata: Seseorang datang kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, lalu menangis.

Maka Mu’adz berkata, “Apa yang membuatmu menangis?”

Orang itu berkata, “Demi Allah, aku menangis bukan karena hubungan kerabat antara kita, bukan pula karena dunia yang aku dapatkan darimu.

Akan tetapi, karena aku mendapatkan darimu ilmu, maka aku khawatir bahwa ilmu itu akan
terputus.”

Mu’adz berkata, “Kalau begitu, janganlah menangis! Karena barangsiapa menginginkan ilmu dan iman, niscaya Allah ta’ala akan memberinya, sebagaimana Dia telah memberi Ibrahim ‘alaihis-salam, padahal pada masa itu tidak ada ilmu maupun iman.”

Menurut riwayat Ibnu ‘Asakir dan Saif -sebagaimana dalam kitab Kanzul-Ummál (7/87) dari Yazid bin ‘Umairah, ia berkata: Ketika datang Mu’adz menjelang kematiannya, menangislah orang-orang di sekitarnya.

Lalu, Mu’adz berkata, “Apa yang membuat kalian menangis?”

Mereka berkata, “Kami menangis karena ilmu yang akan terputus dari kami sepeninggalmu nanti.”

Mu’adz berkata, “Sesungguhnya, ilmu dan iman akan tetap ada sampai hari kiamat. Barangsiapa mencari keduanya, ia pasti menemukannya: Yakni Alquran dan hadis.

Maka jadikanlah Al-Quran sebagai tolok ukur atas setiap perkataan lainnya, dan jangan mengukur Al-Quran dengan tolok ukur perkataan lainnya.

Carilah ilmu pada Umar, Utsman, dan Ali. Namun, jika kalian tidak mendapati mereka, maka carilah ilmu pada empat orang: ‘Uwaimir (Abu Darda’), ibnu Mas’ud, Salman, dan ibnu Salam radhiyallahu ‘anhum yang dulunya adalah seorang yahudi, lalu masuk Islam, karena aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Dia (Abdullah bin Salam) termasuk salah satu diantara sepuluh orang yang (dijamin) masuk Surga.”

Waspadalah terhadap kesalahan orang Alim. Ambillah kebenaran dari siapa pun yang membawanya, dan tolaklah kebatilan dari siapa pun yang membawanya, bagaimana pun keadaan orang itu.”

Al-Hakim meriwayatkan beserta sanadnya (4/466) dari Yazid bin ‘Umairah, ia berkata: Selama sakit yang menyebabkan kematiannya, kadang-kadang Mu’adz bin Jabal pingsan dan kadang-kadang siuman.

Hingga suatu ketika ia pingsan begitu rupa, sehingga kami mengira bahwa ia telah meninggal.

error: Allahu Akbar