lBNU ‘ABDIL-BARR meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Al-Isti’áb (1/548) dari Laits bin Sa’d, ia berkata: Telah sampai kepadaku bahwa Zaid bin Haritsah radhiyallôhu ‘anhu pernah menyewa seekor keledai dari seorang laki-laki dari Thaif.
Pemilik keledai itu memberikan syarat bahwa Zaid harus mengantarkannya terlebih dahulu ke tempat yang ia inginkan.
Lalu (dalam perjalanan,) pemilik keledai itu membelokkan keledainya ke sebuah puing-puing bangunan.
Lalu la berkata kepada Zaid, “Turunlah kamu!”
Maka Zaid pun turun. Ternyata di dalam puing-puing bangunan itu terdapat banyak korban pembunuhan di sana.
Kemudian ketika pemilik keledai itu ingin membunuhnya, zaid berkata, “Biarkan aku mengerjakan shalat dua rakaat.”
Orang itu berkata, “Silakan kamu shalat. Sungguh, mereka pun mengerjakan shalat, namun shalat mereka tidak memberikan manfaat sedikit pun bagi mereka.”
Zaid berkata: Seusai aku mengerjakan shalat, ia pun datang untuk membunuhku.
Aku mengucapkan: “Wahai Zat Yang paling penyayang di antara para penyayang!”
Lalu ia mendengar suara, “Jangan kamu bunuh dia!”
Maka ia pun merasa takut terhadap suara itu. Lalu ia pergi mencarinya, namun tidak mendapati sesuatu. la pun kembali kepadaku, maka aku berseru, “Yâ arhamar-râhimin!”
Kejadian itu pun berulang sebanyak tiga kali. Tiba-tiba muncullah seorang penunggang kuda yang mengendarai seekor kuda dengan memegang sebuah sangkur dari besi yang di ujungnya terdapat nyala api. la pun menusuk pemilik keledai itu dengan sangkur tersebut hingga tembus ke punggungnya, sehingga ia roboh dalam keadaan tewas.
Kemudian penunggang kuda itu berkata kepadaku, “Ketika engkau berdoa pada kali yang pertama: ‘Yâ arhamar-rôhimin! aku sedang berada di langit ketujuh.
Lalu ketika engkau berdoa pada kali yang kedua: Yâ arhamar-rôhimin!’ aku sedang berada di langit paling rendah.
Dan ketika engkau berdoa pada kali yang ketiga: ‘Yâ arhamar-rôhimin! aku pun datang kepadamu.”






