1. Ucapan Abu Bakar Kepada Umar bahwa Dia Telah Membebaninya dengan Jabatan Khalifah
IBNU RAHAWAIH dan Khaitsamah dalam Kitab Fada’ilush-Shahâbah- dan yang lainnya meriwayatkan beserta sanadnya dari seorang laki-laki dari ar-Rabi’ah (keluarga besar Rabiah), telah sampai kabar kepadanya bahwa setelah diangkat
menjadi khalifah, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu duduk bersedih di rumahnya.
Lalu, Umar radhiyallahu ‘anhu datang ke rumahnya. Abu Bakar pun menemuinya dan mencelanya dengan berkata, “Engkau telah membebaniku dengan jabatan khalifah.”
la mengadu kepada Umar bahwa mengambil keputusan bukanlah sesuatu yang mudah.
Umar menjawab, “Tidakkah kamu tahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Seorang pemimpin, jika mengerahkan kemampuannya untuk mengambil keputusan, dan ternyata hasilnya benar maka dia mendapat pahala
ganda. Namun, jika hasilnya salah, maka dia hanya mendapatkan pahala satu.”
Umar berkata demikian untuk meringankan beban pikiran Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu.
(Demikian dalam Kitab Kanzul-‘Ummål (3/135)].
2. Ucapan Abu Bakar Menjelang Wafatnya Kepada Abdurrahman bin ‘Auf
ABU ‘UBAID, ‘Uqaili, Thabarani, ibnu ‘Asakir, Sa’id bin Manshur dan lainnya meriwayatkan beserta sanadnya dari Abdurrahman bin ‘Auf, bahwa Abu Bakar Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma berkata kepadanya ketika sakit menjelang wafatnya, “Sungguh, aku bersedih hanya atas tiga perkara yang aku lakukan (dan aku berharap andaikan saja aku tidak pernah melakukannya, tiga hal yang belum
aku lakukan) dan aku berharap andaikan saja aku telah melakukannya, dan tiga pertanyaan yang aku sangat berharap andaikan telah aku tanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”-dan seterusnya hingga akhir hadis
Dalam riwayat tersebut dinyatakan: “… Aku berharap andaikan pada peristiwa di Pendopo Bani Sa’idah aku serahkan khilafah kepada salah seorang di antara dua orang: Abu ‘Ubaidah bin Jarrah atau Umar.
Jadi, la yang menjadi amir dan aku
sebagai wazirnya.”
Disebutkan pula, “… Aku berharap pula, ketika aku mengirim Khalid ke Syam, aku juga mengirim Umar ke Irak. Jadi, dengan demikian seakan aku membentangkan tanganku ke kanan dan ke kiri di jalan Allah.
Adapun, tiga pertanyaan yang aku
berharap telah aku tanyakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:
(1) Aku berharap seandainya telah bertanya kepada beliau tentang masalah khilafah sehingga tidak akan ada orang yang menyanggahnya.
(2) Aku berharap seandainya telah bertanya kepada beliau apakah orang berhak menjadi khalifah.
(3) Aku berharap seandainya telah bertanya kepada beliau tentang jatah warisan untuk bibi (saudara perempuan bapak) dan keponakan perempuan (anak perempuan dari
saudara perempuan) karena aku memerlukan mereka berdua.”
[Demikian dalam Kitab Kanzul-‘Ummál (3/135))
[Haitsami (5/203) berkata: Dalam sanadnya terdapat ‘Ulwan bin Dawud al-Bajali, rawi yang lemah, dan atsar ini adalah salah satu riwayatnya yang dianggap munkar).





