1. Abu Bakar Bermusyawarah dengan Para Sahabatnha Tentang Khilafah Menjelang Wafatnya
IBNU SA’D (3/199) meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Salamah bin Abdurrahman dan yang lain, bahwa Abu Bakar Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ketika sakitnya semakin parah, memanggil Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Bagaimana pendapatmu tentang Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu?”
Abdurrahman menjawab, “Engkau lebih tahu mengenainya daripada aku.
Abu Bakar menyahut, “Katakanlah, meskipun aku lebih tahu.”
Abdurrahman menjawab, “Demi Allah, dialah yang paling utama di antara orang-orang yang engkau anggap pantas menjadi khalifah.”
Kemudian, Abu Bakar memanggil Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, lalu bertanya, “Bagaimana pendapatmu tentang Umar?”
Utsman menjawab, “Engkaulah yang paling tahu di antara kita tentang Umar.”
Abu Bakar berkata, “Meskipun begitu, wahai Abu ‘Abdillah.”
Utsman bin ‘Affan menjawab, “Demi Allah, setahuku sisi batinnya lebih baik dari penampilan zahirnya. Diantara kami tidak ada orang yang sepadan dengannya.”
Abu Bakar ra berkomentar, “Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepadamu. Demi Allah! Jika aku tidak menunjuknya sebagai khalifah, tentu aku menunjukmu.”
Selain dengan keduanya, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu juga bermusyawarah dengan Sa’id bin Zaid Abul-A’war, Usaid bin Hudhair, dan beberapa sahabat lainnya dari kalangan Muhajirin dan Anshar.
Usaid mengatakan, “Demi Allah! Saya menilai dialah yang terbaik setelah Engkau. Dia senang dengan apa yang Allah ridhai dan marah dengan apa yang Allah murkai.
Batinnya lebih baik daripada penampilan luarnya. Tidak ada yang lebih mampu untuk mengemban jabatan khalifah melebihi dia.”
2. Dialog Antara Abu Bakar dan Beberapa Sahabat Tentang Penunjukan Umar Sebagai Khalifah
Ketika beberapa orang sahabat radhiyallahu ‘anhum mendengar bahwa Abdurrahman bin ‘Auf dan Utsman telah menjumpai Abu Bakar radhiyallahu ‘anhum secara pribadi, mereka pun pergi menemui Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan salah satu dari mereka berkata, “Jawaban apa yang akan Engkau sampaikan
kepada Rabb-mu jika Dia bertanya tentang penunjukan Umar sebagai pengganti khalifah, padahal Engkau tahu tabiatnya yang keras itu?”
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dudukkanlah aku… Apakah kalian ingin menakut-nakuti aku dengan nama Allah?
Rugilah orang yang membawa ketidakadilan sebagai bekal menuju akhirat! Aku akan menjawab pertanyaan-Nya: ‘Ya, Allah! Aku telah menunjuk yang terbaik di antara penduduk Makah sebagai penggantiku.’
Sampaikan kepada orang lain apa yang telah aku katakan kepadamu.”
Kemudian Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berbaring dan memanggil Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu lalu berkata kepadanya, “Tulislah (surat pernyataan di bawah ini)!”
3. Surat Abu Bakar Tentang Penunjukan Umar Sebagai Khalifah Penggantinya serta Pesannya Untuk Umar dan Masyarakat pada Umumnya
“Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
Berikut ini adalah wasiat yang dibuat oleh Abu Bakar bin Abu Quhafah pada saat-saat terakhir di dunia, saat ia bersiap-siap untuk meninggalkannya dan menjelang saat-saat pertama kehidupannya di akhirat, saat ia bersiap-siap untuk memasukinya.
Ini adalah titik ketika seorang kafir menjadi percaya, pendosa menjadi yakin, dan pembohong dapat berbicara benar. Saya telah menunjuk Umar bin Khattab menjadi penggantiku sebagai khalifah kalian.
Dengarkan dan patuhilah ia. (Dalam hal ini) saya tidak mengabaikan kebaikan bagi Allah, Rasul-Nya, agamaNya, diriku sendiri, maupun kalian.
Jika ia berbuat adil, maka seperti itulah harapkanku darinya dan seperti yang saya ketahui tentangnya.
Sebaliknya, jika dia tidak seperti itu, maka setiap orang akan mendapatkan balasan (dari Allah) atas kesalahan yang dilakukannya.
Hanya kebaikanlah yang saya inginkan. Saya tidak memiliki pengetahuan tentang perkara yang gaib. Allah berfirman:
“Dan orang-orang yang lalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (QS. asy-Syu’ara’: 227).
Was-salamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Kemudian, atas perintah Abu Bakar, Utsman radhiyallahu ‘anhuma membubuhkan stempel pada surat tersebut.
Sebagian rawi berkata, “Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu telah mendiktekan bagian awal surat-dan belum menyebutkan nama Umar-ia jatuh pingsan sebelum menyebutkan nama seseorang.
Lalu, Utsman radhiyallahu ‘anhu menuliskan: ‘Aku menunjuk Umar bin Khattab sebagai khalifah kalian.’
Setelah siuman, Abu Bakar berkata kepada Utsman, “Bacakan apa yang telah kamu tulis.”
Utsman membacanya dan ketika ia menyebutkan nama Umar, Abu Bakar mengucapkan takbir lalu berkata, “Sepertinya kamu takut kalau nyawaku hilang ketika aku pingsan, maka orang-orang akan berselisih.
Atas nama Islam dan kaum muslimin, semoga Allah membalasmu dengan kebaikan. Demi Allah! Sebenarnya, kamu pun pantas menjadi khalifah.”
Kemudian, atas perintah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, Utsman dengan diiringi Umar bin Khattab, Usaid bin Sa’id al-Qurzhi radhiyallahu ‘anhum keluar membawa surat berstempel tersebut.
Utsman berkata kepada orang-orang, “Maukah kalian berbaiat kepada orang yang disebutkan dalam surat ini?”
Mereka menjawab, “Ya.”
Sebagian dari mereka mengatakan, “Kami sudah tahu, dia adalah Umar.”
(Ibnu Sa’d berkata bahwa yang berkata demikian itu adalah Ali radhiyallahu ‘anhu)
Lalu, semua orang menyatakan persetujuannya. Mereka pun senang dan membaiat Umar radhiyallahu ‘anhu.
Setelah itu, Abu Bakar memanggil Umar radhiyallahu ‘anhumâ untuk bertemu empat mata dan menyampaikan pesan.
Setelah Umar keluar, Abu Bakar menengadahkan tangannya seraya berdoa, “Ya, Allah. Aku melakukan semua itu. (menunjuk Umar sebagai khalifah penggantinya) hanyalah untuk maksud kebaikan mereka dan karena aku khawatir akan terjadi huru-hara.
Aku telah berbuat seperti yang Engkau lebih ketahui dan aku telah mencurahkan segenap pikiranku untuk mengambil keputusan dengan mengangkat sebagai pemimpin mereka, orang yang terbaik di antara mereka, terkuat dalam menghadapi mereka, dan paling risau atas kebaikan mereka.
Ajal yang telah Engkau tetapkan, kini telah menjemputku, maka gantikanlah aku dalam mengurusi mereka, karena mereka adalah hamba-hambaMu, ubun-ubun mereka berada dalam genggamanMu.
Dengan tanganMu perbaiklah pemimpin mereka dan jadikanlah ia termasuk al-Khulafa ur-Rasyidin yang mengikuti arahan Nabi-Mu, Sang Pembawa Rahmat, serta arahan orang-orang salih sepeninggalnya, dan perbaiki pula rakyatnya.”
[Demikian dalam kitab Kanzul Ummál (3/145)]
Menurut riwayat ibnu Asakir dan Saif dari Hasan rahimahullah, ia berkata: Tatkala Abu Bakar mengalami sakit keras, dan merasa bahwa kematian akan segera datang, la mengumpulkan orang-orang lalu berkata, “Kini kondisiku sudah seperti yang kalian lihat.
Aku merasa bahwa ini adalah saat kematianku. Allah telah membebaskan kalian dari ikatan baiat kepadaku.
Dia telah melepas ikatanku dari kalian dan mengembalikan keputusannya kepada kalian.
Maka, angkatlah orang yang kalian inginkan sebagai pemimpin, karena jika kalian mengangkat pemimpin di saat aku masih hidup, besar kemungkinan kalian tidak akan berselisih sepeninggalku nanti.”
Orang-orang pun melaksanakan ucapan Abu Bakar dan meninggalkannya sendirian untuk bermusyawarah, namun mereka tidak mendapatkan keputusan yang bulat.
Mereka pun kembali kepada Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan berkata, “Pilihkanlah seorang pemimpin untuk kami, wahai Khalifah Rasulullah!”
la menjawab, “Mungkin nanti kalian akan berselisih?”
Mereka menyahut, “Tidak.”
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kalau begitu, kalian harus berjanji dengan nama Allah untuk menerima pilihanku.”
Mereka menyahut, “Ya.”
Abu Bakar berkata, “Beri aku tenggang waktu untuk mempertimbangkan siapakah yang terbaik bagi Allah, agamaNya, dan segenap hambaNya.”
Lalu, Abu Bakar mengirim utusan untuk memanggil Utsman radhiyallahu ‘anhuma, lalu ia berkata kepadanya, “Tunjukkanlah seorang laki-laki (yang pantas menjadi khalifah).
Demi Allah, dalam pandanganku, kamu berhak dan layak menjadi khalifah.”
Utsman menjawab, “Umar.”
(Abu Bakar berkata,) “Tulislah!”
Utsman pun menulis (surat penunjukan pengganti khalifah), hingga ketika tiba saatnya dituliskan nama penggantinya, Abu Bakar jatuh pingsan, lalu setelah siuman, ia mengatakan, “Tulislah: Umar.”
4. Jawaban Abu Bakar Kepada Thalhah Ketika Berbeda Pendapat Mengenai Penunjukan Umar Sebagai Khalifah
MENURUT riwayat Lalika’i dari Utsman bin ‘Ubaidullah bin Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum, ia berkata: Ketika Abu Bakar Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menjelang saat-saat terakhirnya, ia memanggil Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, lalu mendiktekan surat wasiatnya. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu jatuh pingsan sebelum sempat menyebutkan nama seseorang sebagai pengganti khalifah.
Utsman mengambil inisiatif untuk menuliskan nama: Umar bin Khattab.
Setelah sadar, ia bertanya kepada Utsman, “Apakah kamu menuliskan nama seseorang?”
Utsman menjawab, “Aku kira sesuatu telah terjadi padamu (wafat) dan aku khawatir akan terjadi perpecahan, maka aku telah menulis: Umar bin Khattab.
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Semoga Allah mencurahkan rahmatNya untukmu.
Seandainya kamu menuliskan namamu sendiri, kamu juga pantas menjadi khalifah.”
Lalu, masuklah Thalhah bin ‘Ubaidillah seraya berkata, “Aku diutus mewakili orang-orang di belakangku untuk menyampaikan pesan kepadamu.
Mereka mengatakan: ‘Engkau tahu tabiat Umar yang keras terhadap kami di saat engkau masih hidup.
Lantas apa yang akan terjadi sepeninggalmu, jika engkau menyerahkan urusan kami kepadanya?
Kelak, jika Allah menanyaimu, jawaban apa yang akan kamu berikan?”
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dudukkanlah aku… Apakah kalian menakut-nakutiku dengan menyebut nama Allah? Rugilah orang yang hanya mengira-ngira dalam masalah ini. Kelak, jika Allah menanyaiku, aku akan menjawab: ‘Aku telah menunjuk pemimpin bagi kaum muslimin, orang yang terbaik di antara mereka. Sampaikanlah jawabanku ini kepada mereka.”
5. Hadis Ummul-Mukminin ‘Aisyah Mengenai Masalah Ini
MENURUT riwayat ibnu Sa’d (3/196) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Ketika Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjelang wafatnya, ia menunjuk Umar sebagai khalifah.
Lalu Ali dan Thalhah radhiyallahu ‘anhumâ menjumpainya dan bertanya, “Siapa yang engkau tunjuk sebagai khalifah?”
la menjawab, “Umar.”
Mereka bertanya lagi, “Lantas, jawaban apa yang akan engkau sampaikan kepada Rabbmu?”
Abu Bakar menjawab, “Apakah kalian menakut-nakutiku dengan nama Allah? Aku lebih tahu tentang Allah dan Umar daripada kalian berdua. (Jika Allah menanyaiku) aku akan menjawab: ‘Aku menunjuk sebagai khalifah kaum muslimin, orang yang terbaik di antara orang-orang yang dekat dengan Mu.””
[Demikian dalam Kitab Kanzul-‘Ummál (3/146)].
Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi (8/149) beserta sanadnya dengan lafal yang sebagian besarnya sama, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhâ, juga oleh ibnu Jarir dengan lafal yang semakna, dari Asma’ binti ‘Umais radhiyallahu ‘anhâ.
6. Hadis Zaid bin Harits Mengenai Masalah Ini
DIRIWAYATKAN pula oleh ibnu Abi Syaibah beserta sanadnya dari Zaid bin Harits, bahwa Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu di saat-saat menjelang wafatnya, mengirim utusan kepada Umar untuk menyampaikan penunjukannya sebagai pengganti khalifah.
Lalu, orang-orang berkomentar, “Engkau tunjuk sebagai pemimpin untuk kami, orang yang keras lagi kasar? Kalau dia sudah memimpin kami nanti, tentu dia akan lebih keras dan kasar lagi.”
Lantas, jawaban apa yang akan engkau berikan kepada Rabbmu-atas penunjukan Umar sebagai khalifah kami-jika berjumpa denganNya kelak?”
Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Apakah kalian hendak menakut-nakutiku dengan menyebut Rabbku? Kelak, aku akan menjawab: Ya, Allah. Aku menunjuk sebagai khalifah kaum muslimin, orang terbaik di antara mereka yang dekat dengan Mu…
[Demikian dalam kitab Kanzul-‘UmmÃ¥l (3/146)].





