Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Bukhari, Muslim, Ahmad, Nasa’i, Ibnu Abi Hatim, Al-Hakim dan yang lainnya dengan lafal yang sebagian besarnya sama dari Anas, -sebagaimana dalam Kitab Kanzul-‘Ummal (7/280).
Ahmad meriwayatkan beserta sanadnya dari Hudzaifah bin Asid, ia berkata: Suatu ketika Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berdiri lalu berkata, “Wahai, Bani Ghifar!Berkatalah kalian, namun janganlah kalian bersumpah! Orang yang benar yang dapat dibenarkan (yakni Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) telah memberitahuku bahwa manusia akan dikumpulkan dalam tiga kelompok: Satu kelompok berkendara sambil makan dan mengenakan pakaian, satu kelompok lagi berjalan cepat, dan satu kelompok lagi diseret oleh para malaikat atas wajah mereka dan digiring ke neraka.”
Lalu, seseorang di antara mereka berkata, “Dua kelompok diantaranya telah kami ketahui. Lalu, bagaimana dengan orang-orang yang berjalan cepat?”
Beliau bersabda, “Allah ‘azza wajalla menimpakan penyakit kepada hewan tunggangannya sehingga (mati dan) tidak ada tunggangan yang tersisa.
Bahkan ada seseorang yang memiliki sebuah taman yang indah. Ia pun ingin menukarnya dengan seekor unta tua berpelana, maka tidak ada yang mampu menyediakannya.”
[Demikian dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir (3/65)].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Al-Hakim dari Hudzaifah dari Abu Dzar dengan lafal yang sebagian besarnya sama.
(Al-Hakim berkata: Ini adalah hadis yang sanadnya shahih sampai kepada Walid bin Jumai’, namun Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya beserta sanadnya dalam Kitab Shahih mereka).
(Dzahabi berkata: Walid telah digunakan riwayatnya oleh Muslim dengan mutâba’ah, dan hadisnya diterima sebagai hujah oleh Nasa’i)
4. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Menyuruh Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhum Agar Mengucapkan, “Ma Sya’allahu Wahdah, Lâ Syarika Lah.”
BAIHAQI meriwayatkan beserta sanadnya dalam Kitab Al-Asma’ Wash-Shifât (hal. 110) dari Thufail bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu -saudara seibu ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhâ- bahwa dalam mimpinya ia bertemu dengan beberapa orang Nasrani, lalu ia berkata, “Sebaik-baik kaum adalah kalian seandainya kalian tidak menganggap bahwa Al-Masih (Isa) adalah anak Allah.”
Orang Nasrani itu berkata, “Kalian adalah kaum terbaik seandainya kalian tidak mengucapkan: Mâ sya’allah wasya’a muhammad (semua ini terjadi atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad).”
Kemudian, ia bertemu dengan beberapa orang Yahudi, lalu ia berkata, “Kalian adalah kaum terbaik seandainya kalian tidak menganggap bahwa ‘Uzair adalah anak Allah.”
Orang Yahudi itu berkata, “Sedangkan kalian adalah orang- orang yang mengucapkan: Mâ sya’allah wasya’a muhammad (semua ini terjadi atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad).”






