3. Kecintaan Anas, Abu Musa, dan lbnu Umar Radhiyalláhu ‘Anhum Terhadap Zikir
ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya” (1/259) dari Anas bin Malik radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata: Ketika kami bersama Abu Musa radhiyalláhu ‘anhu dalam sebuah perjalanan yang ia pimpin, ia mendengar orang-orang berbincang-bincang, dan membicarakan sesuatu dengan fasihnya.
Lalu, ia berkata, “Apa untungnya aku (mendengarkan pembicaraan seperti itu). wahai Anas? Mari kita mengingati Allah, karena orarng-orang berbincang-bincang begitu rupa sehingga nyaris dapat merobek kulit cengan lidahnya (karena saking fasihnya)” -Lalu perawi melanjutkan hadisnya sebagaimana yang telah disebutkan dalam bab Iman kepada Akhirat.
Thabarani meriwayatkan beserta sanadnya dari Mu’adz bin Abdullah bin Rafi radhiyallâhu ‘anhum, ia berkata: Ketika aku duduk dalam satu majelis yang dihadiri oleh Abdullah bin Umar, Abdullah bin Ja’far, dan Abdullah bin Abu ‘Umairah radhiyallâhu ‘anhum.
Lalu, ibnu Abi ‘Umairah berkata: Aku mendengar Mu’adz bin Jabal berkata: Aku mendengar Rasulullah shalallâhu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada dua kalimat, salah satunya tidak ada malaikat yang bisa menghalanginya sebelum mencapai Arasy, dan yang lain memenuhi ruang antara langit dan bumi: Yaitu kalimat lâ ilâha illallâh dan Allâhu akbar.”
Lalu, ibnu Umar berkata kepada ibnu Abi ‘Umairah, “Kamu mendengar beliau bersabda demikian?”
“Ya,” sahutnya.
Maka menangislah Abdullah bin Umar hingga jenggotnya basah dengan air mata.
la pun berkata, “Itu adalah dua kalimat yang kami sukai dan telah terbiasa mengucapkannya.”
[Mundziri berkata dalam kitab At-Targhib Wat-Tarhib (3/94): Para perawinya sampai kepada Muadz bin Abdullah adalah tsiqah selain ibnu Lahi’ah. Namun, ada hadis lain yang menguatkan hadisnya ini].
[Haitsami (10/86) berkata: Tentang Mu’adz bin Abdullah, aku tidak mengenalinya, dan ibnu Lahiah hadisnya hasan, sedangkan para rawi yang lain tsiqah).
Ibnu Sa’d (7/22) meriwayatkan beserta sanadnya dari Jurairi, ia berkata: Suatu ketika Anas bin Malik berihram dari Dzatu Irq. Kami tidak mendengarnya berbicara apa-apa kecuali dengan zikrullah sampai tahallul.
Lalu, ia berkata kepadaku’, “Hai keponakanku, seperti inilah ihram.”






