Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Ibnu ‘Asakir dari Hasan, ia berkata: Seseorang datang kepada Umar bin Khattab, lalu berkata, “Wahai, Amirul-Mukminin! Saya seseorang dari kawasan pedalaman. Saya memiliki berbagai kesibukan, maka berilah saya suatu nasihat agar saya jadikan pegangan dan dengannya saya akan sampai (ke surga).”
Lalu, Umar berkata, “Pahamilah (kata-kataku), dan tunjukkan tanganmu kepadaku.”
Orang itu pun memberikan tangannya. Umar berkata, “Kamu menyembah Allah, tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Nya, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat yang diwajibkan, pergi haji dan umrah, menaati
(pemimpin).
Cukuplah kamu melihat amalan orang lain yang tampak! Janganlah mencari tahu rahasia orang lain! Hendaklah kamu hanya melakukan sesuatu yang apabila diceritakan dan disebarluaskan, kamu tidak merasa malu darinya dan tidak membuatmu malu!
Dan jauhilah segala sesuatu yang apabila diceritakan dan disebarluaskan, kamu tidak merasa malu darinya dan tidak membuatmu malu!”
Orang itu berkata, “Wahai, Amirul-Mukminin! Saya akan mengamalkannya. Lalu, apabila kelak aku bertemu dengan Tuhanku, aku akan mengatakan: Aku diberi tahu Umar bin Khattab mengenainya.”
Umar berkata, “Peganglah hal itu, lalu apabila kamu bertemu dengan Tuhanmu, katakanlah kepadanya apa yang terlintas dalam pikiranmu.”
[Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummál (8/208)].






