3 - Ridho

Nabi SAW. Dakwah ke Thaif, Terjadi Penolakan dan Perlakuan Buruk Terhadapnya Hingga Darah Mengalir Sampai Telapak Kaki

115
×

Nabi SAW. Dakwah ke Thaif, Terjadi Penolakan dan Perlakuan Buruk Terhadapnya Hingga Darah Mengalir Sampai Telapak Kaki

Sebarkan artikel ini

IMAM BUKHARI (1/458) meriwayatkan beserta sanadnya dari Urwah bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhá, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, memberitahu kepadanya bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah! Pernahkah engkau mengalami suatu hari yang lebih berat daripada hari terjadinya perang Uhud?”

Beliau menjawab, “Sungguh, aku telah mengalami banyak kesusahan dari kaumku. Dan hari yang paling berat yang pernah aku alami adalah Hari ‘Aqabah (Thaif).

Pada waktu itu aku menemui Ibnu Abdi Yalil bin ‘Abdu Kulal, namun ia tidak mengabulkan apa yang aku inginkan.

Aku pun pulang dengan kesedihan yang menyelimuti wajahku. Aku tidak menyadari segala sesuatunya, hingga tiba di Qarnuts-Tsa’alib.

Aku mengangkat kepalaku dan aku lihat sebuah awan telah menaungiku. Setelah aku pandangi dengan saksama, ternyata di sana ada Jibril ‘alaihis-salam.

la memanggilku dan berkata, “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu serta jawaban mereka.

Dia telah mengutus malaikat penjaga gunung supaya engkau memerintahkan kepadanya apa yang engkau kehendaki terhadap mereka.”

Beliau melanjutkan, “Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku.

Lalu ia berkata, ‘Hai Muhammad! Apa yang dikatakan oleh Jibril itu benar. Apa yang engkau kehendaki? (Jika engkau kehendaki) aku akan menghimpitkan dua gunung’ itu kepada mereka.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Bukan begitu, tetapi aku berharap supaya Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang yang menyembah Allah semata-mata, tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya.”

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Muslim dan Nasa’i.

Musa bin ‘Uqbah menyebutkan dalam kitab Al-Maghâzî, dari Ibnu Syihab, bahwa setelah Abu Thalib meninggal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pergi menuju ke Thaif dengan harapan bahwa mereka akan memberinya tempat.

Beliau pun mendatangi tiga orang Kabilah Tsaqif, yang merupakan pemimpin kabilah. Mereka semua bersaudara: Abdu Yalil, Habib, Mas’ud, semuanya anak ‘Amr.

Lalu beliau menawarkan kepada mereka untuk menerima beliau dan mengadukan kepada mereka perlakuan yang beliau terima dari kaumnya.

Namun mereka menjawab beliau dengan jawaban yang paling buruk. Demikian ini disebutkan pula oleh Ibnu Ishaq tanpa sanad secara panjang lebar.

[Demikian dalam kitab Fathul-Bârî (6/198)].

Abu Nu’aim meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Dalâ ilun-Nubuwwah (hal. 103) dari ‘Urwah bin Zubair radhiyallahu ‘anhumâ, ia berkata: Abu Thalib meninggal (pada tahun ke-10 dari kenabian), cobaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun semakin berat.

Maka beliau pergi menuju kabilah Tsaqif dengan harapan bahwa mereka akan memberikan tempat dan pertolongan kepada beliau.

Disana, beliau menemukan diantara mereka ada tiga orang pemimpin Kabilah Tsaqif, dan mereka semua bersaudara: ‘Abdu Yalil bin ‘Amr, Khubaib bin ‘Amr, dan Mas’ud bin ‘Amr.

error: Allahu Akbar