3 - Ridho

Nabi SAW. Dakwah ke Thaif, Terjadi Penolakan dan Perlakuan Buruk Terhadapnya Hingga Darah Mengalir Sampai Telapak Kaki

2
×

Nabi SAW. Dakwah ke Thaif, Terjadi Penolakan dan Perlakuan Buruk Terhadapnya Hingga Darah Mengalir Sampai Telapak Kaki

Sebarkan artikel ini

IMAM BUKHARI (1/458) meriwayatkan beserta sanadnya dari Urwah bahwa ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhá, istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, memberitahu kepadanya bahwa ia pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah! Pernahkah engkau mengalami suatu hari yang lebih berat daripada hari terjadinya perang Uhud?”

Beliau menjawab, “Sungguh, aku telah mengalami banyak kesusahan dari kaumku. Dan hari yang paling berat yang pernah aku alami adalah Hari ‘Aqabah (Thaif).

Pada waktu itu aku menemui Ibnu
Abdi Yalil bin ‘Abdu Kulal, namun ia tidak mengabulkan apa yang aku inginkan.

Aku pun pulang dengan kesedihan yang menyelimuti wajahku. Aku tidak menyadari segala sesuatunya, hingga tiba di Qarnuts-Tsa’alib.

Aku mengangkat kepalaku dan aku lihat sebuah awan telah menaungiku. Setelah aku pandangi dengan saksama, ternyata di sana ada Jibril ‘alaihis-salam.

la memanggilku dan berkata, “Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mendengar perkataan kaummu kepadamu serta jawaban mereka.

Dia telah mengutus malaikat penjaga gunung supaya engkau memerintahkan kepadanya apa yang engkau kehendaki terhadap mereka.”

Beliau melanjutkan, “Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan
salam kepadaku.

Lalu ia berkata, ‘Hai Muhammad! Apa yang dikatakan oleh Jibril itu benar. Apa yang engkau kehendaki? (Jika engkau kehendaki) aku akan
menghimpitkan dua gunung’ itu kepada mereka.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Bukan begitu, tetapi aku berharap supaya Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang yang menyembah Allah semata-mata,
tidak menyekutukan sesuatupun dengan-Nya.”

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Muslim dan Nasa’i.

Musa bin ‘Uqbah menyebutkan dalam kitab Al-Maghâzî, dari Ibnu Syihab, bahwa setelah Abu Thalib meninggal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pergi menuju ke Thaif dengan harapan bahwa mereka akan memberinya tempat.

Beliau pun mendatangi tiga orang Kabilah Tsaqif, yang merupakan pemimpin kabilah. Mereka semua bersaudara: Abdu Yalil, Habib, Mas’ud, semuanya anak ‘Amr.

Lalu beliau menawarkan kepada mereka untuk menerima beliau dan mengadukan kepada mereka perlakuan yang beliau terima dari kaumnya.

Namun mereka menjawab beliau dengan jawaban yang paling buruk. Demikian ini disebutkan pula oleh Ibnu Ishaq tanpa sanad secara panjang lebar.

[Demikian dalam kitab Fathul-Bârî (6/198)].

Abu Nu’aim meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Dalâ ilun-Nubuwwah (hal. 103) dari ‘Urwah bin Zubair radhiyallahu ‘anhumâ, ia berkata: Abu Thalib meninggal (pada tahun ke-10 dari kenabian), cobaan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun semakin berat.

Maka beliau pergi menuju kabilah Tsaqif dengan harapan bahwa mereka akan memberikan tempat dan pertolongan kepada beliau.

Disana, beliau menemukan diantara mereka ada tiga orang pemimpin Kabilah Tsaqif, dan mereka semua bersaudara: ‘Abdu Yalil bin ‘Amr, Khubaib bin ‘Amr, dan Mas’ud
bin ‘Amr.

Lalu beliau menawarkan kepada mereka agar menerima beliau. Beliau juga mengadukan kepada mereka cobaan dan perlakuan buruk yang beliau terima dari kaumnya.

Maka salah seorang di antara mereka berkata, “Aku akan mencuri
tirai Ka’bah jika benar bahwa Allah mengutusmu dengan membawa sesuatu.”

Yang lain berkata, “Demi Allah! Aku tidak akan berbicara denganmu sepatah kata pun setelah ini selamanya. Jika benar bahwa kamu seorang utusan, maka kamu terlalu
mulia untuk berbicara dengan kami.”

Dan yang lain berkata, “Apakah Allah tidak mampu untuk mengutus orang lain selain kamu?”

Bahkan mereka menyebarkan kepada orang-orang Tsaqif tentang apa yang beliau katakan kepada mereka.

Mereka berkumpul untuk memperolok-olok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mereka duduk dalam dua barisan di sisi jalan yang beliau lalu. Mereka memegang bebatuan di tangan mereka.

Setiap kali beliau mengangkat kakinya ataupun meletakkan, selalu saja mendapatkan lemparan bebatuan dari mereka. Dalam pada itu, mereka juga memperolck-olokkan dan menghina beliau.

Setelah beliau melewati dua barisan tersebut dengan kedua telapak kaki
yang mengalirkan darah, beliau berjalan menuju sebuah kebun berpagar milik mereka.

Beliau datang ke bawah naungan sebuah pohon anggur, lalu duduk di
dekat batang pohon dalam keadaan bersedih dan sakit, sedangkan kedua telapak kaki beliau mengalirkan darah.

Ternyata di kebun anggur tersebut ada Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah. Ketika melihat mereka, beliau enggan untuk datang kepada mereka karena mengetahui sikap permusuhan mereka terhadap Allah dan Rasul-Nya, sedangkan beliau dalam keadaan seperti itu.

Lalu “Utbah dan Syaibah mengutus budak mereka yang bernama ‘Addas yang beragama Nasranil dari penduduk Ninawa kepada beliau dengan membawakan anggur.

Setelah sampai ke tempat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, ia meletakkan anggur tersebut di hadapan beliau. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengucapkan, “Bismillah!”

Maka Addas merasa heran. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadanya, “Dari negeri manakah kamu hai ‘Addas?”

la berkata, “Aku berasal dari Ninawa.”

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dari kota seorang laki-laki saleh yang bernama Yunus bin Matta?”

‘Addas berkata kepadanya, “Apa yang engkau ketahui tentang Yunus bin Matta?”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam memberitahukan kepadanya tentang Yunus sejauh yang beliau ketahui.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meremehkan seseorang untuk menyampaikan kepadanya tentang risalah dari Allah ta’ála. ‘

Addas berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku berita mengenai Yunus bin Matta.”

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan kepadanya mengenal Yunus bin Matta sejauh yang telah diwahyukan kepadanya, ‘Addas pun menyungkur
bersujud kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kemudian ia mencium kedua telapak kaki beliau yang masih mengalirkan darah.

Ketika melihat apa yang dilakukan oleh budak mereka, ‘Utbah dan saudaranya, Syaibah, mereka pun diam.

Setelah ‘Addas kembali, mereka berkata kepadanya, “Apa yang terjadi dengan dirimu? Kamu bersujud kepada Muhammad dan mencium kedua telapak kakinya, padahal kami tidak pernah melihat kamu berbuat seperti ini kepada salah seorang dari kami.”

la berkata, “la adalah seorang laki-laki yang saleh. la telah memberitahuku tentang perkara-perkara yang sudah aku ketahui
mengenai seorang rasul yang diutus oleh Allah ta’ala kepada kami, yang bernama Yunus bin Matta. la juga memberitahukan kepadaku bahwa ia adalah utusan Allah.”

Maka keduanya tertawa dan berkata, “Jangan sampai kamu terpedaya untuk meninggalkan agama Nasranimu, karena ia seorang penipu.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali ke Makah.

Disebutkan dalam Kitab Al-Bidayah Wan-Nihayah dari Musa bin ‘Uqbah: Penduduk Thaif duduk dalam dua barisan di sisi jalan yang beliau lalui.

Ketika beliau lewat, mereka pun melempari kedua kaki beliau dengan bebatuan, tanpa peduli apakah beliau menaikkan kedua kakinya ataupun meletakkannya, hingga keduanya berdarah.

Akhirnya beliau lolos dari gangguan mereka, sedangkan kedua telapak
kaki beliau mengalirkan darah.

Menurut riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Ishaq: Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun pergi meninggalkan mereka, tanpa memiliki harapan kebaikan dari Kabilah Tsaqif.

Menurut riwayat yang sampai kepadaku, disebutkan bahwa beliau berkata kepada mereka, “Jika kalian bersikap seperti itu terhadapku, maka rahasiakanlah hal ini,” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak suka bila sampai terdengar oleh orang-orang Tsaqif tentang sikap penolakan mereka terhadap beliau, sehingga akan membuat mereka bersikap dan bertindak berani terhadap beliau.

Namun mereka tidak menuruti kata-kata beliau. Mereka pun menghasut orang-orang jahil dan budak-budak mereka terhadap beliau serta meneriaki beliau.

Akhirnya berkumpullah orang-orang mengerumuni beliau. Hal itu membuat beliau pergi berlindung ke sebuah kebun berpagar milik ‘Utbah bin Rabi’ah dan Syaibah bin Rabi’ah yang ketika itu ada di dalamnya.

Sedangkan orang-orang jahil dari Kabilah Tsaqif yang semula membuntuti beliau pulang.

Beliau menuju ke bawah naungan sebuah pohon anggur, lalu duduk di dalamnya.

Sedangkan kedua putra Rabi’ah memerhatikan beliau dan melihat perlakuan buruk yang beliau terima dari orang-orang jahil dari penduduk Thaif.

Menurut riwayat yang sampai kepadaku disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertemu dengan seorang perempuan dari Kabilah Bani
Jumah, lalu beliau berkata kepadanya, “Betapa buruk perlakuan saudara-saudara iparmu terhadapku.”

error: Allahu Akbar