Abu ‘Aziz berkata, “Saudaraku Mush’ab bin ‘Umair lewat di hadapanku ketika salah seorang sahabat Ansar menangkapku, lalu Mush’ab berkata kepadanya: ‘Pegang ia kuat-kuat, karena ibunya memiliki banyak harta.
Mungkin ia akan menebusnya darimu.””
Lanjut Abu ‘Aziz, “Aku berada bersama beberapa orang Ansar, ketika mereka datang membawaku dari Badar.
Apabila mereka menyiapkan makan siang dan makan malam, mereka mengistimewakanku dengan memberi roti, sedangkan mereka makan kurma, karena menjalankan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka mengenai kami (para tawanan).
Setiap kali ada seseorang di antara mereka yang mendapatkan sepotong roti, ia akan memberikannya kepadaku.
Akhirnya, aku pun malu dan menolaknya, namun ia juga tidak mau mengambilnya bahkan tidak menyentuhnya.”
Setelah saudaranya -Mush’ab- berkata kepada Abu Yasar -yang menawannya seperti itu, Abu ‘Aziz berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, seperti itukah pesanmu mengenai aku?”
Maka Mush’ab berkata kepadanya,
“Sesungguhnya, dia adalah saudaraku, sedangkan kamu bukan.”
Kemudian ibu Abu ‘Aziz bertanya tentang tebusan termahal yang pernah diberikan untuk seorang laki-laki Quraisy, lalu dikatakan kepadanya, “Empat ribu (4.000) dirham.”
la pun mengirimkan tebusan sebesar empat ribu (4.000) dirham.
Demikian dalam kitab al-Bidayah wan-Nihayah (3/307).






