1. Hadits Abu Hurairah dan Thalq bin Ali Radhiyallahu ‘Anhuma Tentang Pembangunan Masjid Nabawi
AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ketika itu orang-orang mengangkut batu bata, untuk membangun masjid, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyertai mereka.
Lalu, aku menghampiri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang mengangkat batu bata melintang pada perutnya. Aku mengira bahwa beliau keberatan membawanya.
Aku pun berkata, “Berikan batu bata itu kepadaku, wahai Rasulullah.”
Beliau berkata, “Ambillah yang lain, hai Abu Hurairah. Sesungguhnya tidak ada kehidupan (yang hakiki) selain kehidupan akhirat.”
[Haitsami (2/9) berkata: Para perawinya adalah perawi kitab Shahih].
Ahmad dan Thabarani meriwayatkan beserta sanadnya dari Thalq bin Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku ikut membangun masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Ketika itu beliau berkata, “Suruhlah orang dari Yamamah agar mengurusi tanah liat, karena ia paling baik dalam mengaduk tanah liat dan paling kuat bahunya di antara kalian.”
[Haitsami (2/9) berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabarani dalam Al-Mu’jamul-Kabir. Para perawinya dinyatakan tsiqah].
Menurut riwayat Ahmad pula dari Thalq, ia berkata: Aku datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika para sahabatnya sedang membangun masjid.
Sepertinya beliau tidak puas dengan hasil pekerjaan mereka. Lalu, aku mengambil sekop dan mengaduk tanah liat dengannya.
Sepertinya beliau senang bahwa aku mengambil sekop dan puas dengan hasil pekerjaanku.
Lalu, beliau berkata, “Biarkan orang dari kabilah bani Hanifah mengurusi tanah liat, karena ia paling pandai mengolah tanah liat di antara kalian.”
[Haitsami (2/9) berkata: Dalam sanadnya terdapat Ayyub bin ‘Utbah, diperselisihkan ketsiqahannya].
2. Kerja Keras Istri Abdullah bin Abu Aufa Radhiyallahu ‘Anhum Dalam Membangun Masjid Nabawi
BAZZAR meriwayatkan beserta sanadnya dari ibnu Abi Aufa radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ketika istrinya meninggal, ia berkata, “Usunglah jenazahnya dengan senang hati, karena dulu ia dan bekas budaknya turut mengangkut pada.malam hari batu-batu masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Nabawi). Pada siang harinya, kami mengangkut dua batu demi dua buah batu.”
[Haitsami (2/10) berkata: Dalam sanadnya terdapat Abu Malik An-Nakha’i, dan dia adalah rawi yang dha’if].
3. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Ingin Bahwa Masjidnya Seperti Bangsal Musa ‘Alaihis-Salâm
THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Al-Mu’jamul-Kabir dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Suatu ketika orang-orang Ansar berkata, “Sampai kapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengerjakan salat (dalam masjid yang terbuat dari) pelepah kurma ini?”
Lalu, mereka mengumpulkan dinar untuk beliau. Kemudian, mereka datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawanya, lalu berkata, “Kita akan perbaiki dan menghiasi masjid ini.”











