2. Kerja Keras Istri Abdullah bin Abu Aufa Radhiyallahu ‘Anhum Dalam Membangun Masjid Nabawi
BAZZAR meriwayatkan beserta sanadnya dari ibnu Abi Aufa radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ketika istrinya meninggal, ia berkata, “Usunglah jenazahnya dengan senang hati, karena dulu ia dan bekas budaknya turut mengangkut pada.malam hari batu-batu masjid yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Nabawi). Pada siang harinya, kami mengangkut dua batu demi dua buah batu.”
[Haitsami (2/10) berkata: Dalam sanadnya terdapat Abu Malik An-Nakha’i, dan dia adalah rawi yang dha’if].
3. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Ingin Bahwa Masjidnya Seperti Bangsal Musa ‘Alaihis-Salâm
THABRANI meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Al-Mu’jamul-Kabir dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Suatu ketika orang-orang Ansar berkata, “Sampai kapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengerjakan salat (dalam masjid yang terbuat dari) pelepah kurma ini?”
Lalu, mereka mengumpulkan dinar untuk beliau. Kemudian, mereka datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawanya, lalu berkata, “Kita akan perbaiki dan menghiasi masjid ini.”
Beliau bersabda, “Aku tidak akan meninggalkan (teladan) saudaraku Musa. Biarlah masjid ini berupa bangsal seperti bangsal Musa.”
[Haitsami (2/16) berkata: Dalam sanadnya terdapat Isa bin Sinan, dinyatakan dha’if oleh Ahmad dan yang lainnya, namun dinyatakan tsiqah oleh ‘ljli, ibnu Hibban, dan ibnu Khirasy dalam suatu riwayat].
Menurut riwayat Baihaqi dalam kitab Dala’ilun-Nubuwwah dari ‘Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa suatu ketika orang-orang Ansar mengumpulkan uang, lalu mereka membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Mereka pun berkata, “Wahai, Rasulullah. Bangunlah dan hiasilah masjid ini. Sampai kapan kita akan salat di bawah masjid yang terbuat dari pelepah kurma ini?”
Lalu, beliau bersabda, “Aku tidak akan meninggalkan (teladan) saudaraku Musa. Biarlah masjid ini berupa bangsal seperti bangsal Musa.”
Mengenai keterangan tentang bangsal Musa, Baihaqi meriwayatkan dari Hasan, ia berkata, “Apabila ia mengangkat tangannya, tangannya itu mencapai atap bangsal.”
Dan dari ibnu Syihab: Tiang-tiang masjid pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berupa batang batang pohon kurma. Atapnya berupa pelepah dan daun kurma. Atap itu tidak dilapisi dengan tanah liat yang cukup banyak. Apabila hujan turun, masjid penuh dengan tanah liat. Bentuk masjid itu hanyalah seperti halnya bentuk bangsal.






