ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliya (1/201) dari Abu Nahik dan Abdullah bin Hanzhalah, ia berkata: Ketika itu kami sedang bersama Salman radhiyallâhu ‘anhu dalam suatu rombongan pasukan.
Kemudian ada seseorang yang membaca surat Maryam. Lalu seseorang lainnya (kemungkinan besar seorang Yahudi) mencela Maryam dan putranya (Isa ‘alaihis-salâm).
Maka kami memukulinya hingga berdarah. Kemudian orang Yahudi itu datang kepala Salman dan mengadu kepadanya.
Padahal, orang itu sebelumnya tidak pernah mengadukan sesuatu kepada Salman. Dan pada umumnya, apabila orang-orang mendapatkan perlakuan tidak baik dari orang lain, maka ia mengadukannya kepada Salman.
Lalu Salman datang kepada kami. la pun bertanya, “Mengapa kalian memukuli orang ini?”
Kami menjawab, “Kami membaca surat Maryam, lalu ia mencela Maryam dan putranya.”
Salman berkata, “Mengapa kalian memperdengarkan surat itu kepada orang-orang Yahudi? Tidakkah kalian mendengar firman Allah ‘azza wajalla:
“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” (QS. Al-An’am: 108)
Yakni dengan sesuatu yang tidak mereka ketahui Kemudian Salman berkata. “Wahai sekalian orang-orang Arabl Bukankah dahulu kalian adalah manusia yang paling buruk agamanya, manusia yang paling buruk negerinya, dan manusia yang paling rendah taraf kehidupannya.
Lalu Allah memuliakan kalian dan memberikan karunia kepada kalian. Apakah kalian ingin menyiksa manusia karena kemuliaan yang telah Alah berikan kepada kalian?
Demi Allah! Hendaknya kalian menghentikan perbuatan itu. Jika tidak, Allah ‘azzo wajalla akan mengambil kembali apa yang telah
ada di tangan kalian, lalu Dia akan memberikannya kepada bangsa lain!”
Kemudian Salman mengajari kami tentang perkara-perkara agama. la mengatakan, “Shalatlah kalian pada waktu antara salat Maghrib dan Isya, karena dengan demikian, jatah bacaan Al-Qur’an harian kalian akan menjadi ringan dan terhindar dari kelalaian pada permulaan malam.
Sesungguhnya, kelalaian pada permulaan malam itu akan dapat merusak keadaan pada akhir malam.”
Mengambil Pelajaran dari Keadaan Orang-orang yang Meninggalkan Perintah Allah
ABU NU’AIM meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab Hilyatul-Auliyå (1/216) dari Jubair bin Nufair radhiyallâhu ‘anhu, ia berkata: Tatkala Siprus dapat ditaklukkan oleh kaum muslimin, maka para penduduknya tercerai-berai sehingga mereka saling menangisi.
Ketika itu aku melihat Abu Darda radhiyallâhu ‘anhu duduk seorang diri seraya menangis. Aku pun bertanya kepadanya, “Hai Abu Darda’
Apa yang membuatmu menangis pada hari ketika Allah memuliakan Islam dan kaum muslimin?”
la mengatakan, “Payah kamu hai Jubair! Betapa hinanya manusia di hadapan Allah apabila mereka meninggalkan perintah-Nya.
Dahulu mereka adalah suatu bangsa yang kuat dan unggul di atas bangsa-bangsa lainnya serta memiliki kekuasaan.
Namun karena mereka meninggalkan perintah Allah, akhirnya mereka menjadi seperti apa yang kamu lihat ini.”
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh ibnu Jarir dalam kitab Târikh-nya (3/318) dari Jubair dengan lafal yang sebagian besarnya sama. Dan setelah kata-kata: ‘akhirnya mereka menjadi seperti apa yang kamu lihat ini, ia menambahkan, “Lalu Allah menjadikan mereka sebagai orang-orang tawanan. Dan apabila suatu kaum menjadi tawanan, maka mereka tidak ada harganya di sisi Allah.”






