Salah seorang saudaranya berkata, “Aku adalah temanmu yang taat kepada kehendakmu sebelum perpisahan kita.
Namun nanti bila waktu perpisahan telah tiba, tidak ada lagi hubungan antara aku dan kamu.
Maka ambillah sekarang, apa yang kamu inginkan dariku, karena aku akan dibawa ke tempat lain dengan segera.
Kamu tidak lagi bisa menyimpanku, maka gunakanlah aku. Lekas manfaatkan aku sebelum datang kematianmu.”
Berkatalah saudara lain yang sangat aku cintai dan aku utamakan daripada siapa pun juga,
“Yang bisa kuberikan hanya kesungguhan dan ketulusanku, bila datang kesulitan kepadamu, selain kematianmu.
Saat itu aku hanya bisa menangis keras untukmu dan memuji kebaikanmu bila orang bertanya.
Bersama para pelayat, aku akan mengiringi jenazahmu.
Sesekali, dengan kelembutan, aku pun akan memikulmu menuju tempat peraduanmu yang akan kamu masuki.
Lalu aku kembali meneruskan kesibukanku, seakan persahabatan kita tidak pernah ada, Ataupun kasih sayang dan saling berbagi.”
Itu adalah keluarga seseorang dan kekayaannya.
Meski sangat diharapkan, mereka itu tiada guna.
Ada lagi yang berkata, “Akulah saudara yang sesungguhnya. Saat datang kesulitan besar, tidak ada saudara lain seperti aku.
Didalam kubur, kamu akan menjumpaiku duduk di sana.
Akan kujawab pertanyaan kubur untuk membelamu.






