Ketika amalmu ditimbang, aku akan duduk di sisimnu, sisi timbangan yang kamu ingin memberatkannya.
Maka janganlah kamu melupakanku, dan kenalilah aku.
Aku sayang, tulus, dan takkan menelantarkamu.”
Itulah amal saleh yang telah kamu kerjakan dahulu, yang akan kamu dapati saat berjumpa dengan Tuhanmu.
Maka menangislah Rasulullah shallallâhu alaihi wasallam, dan para sahabat radhiyallähu ‘anhum pun menangis karena ungkapan bait-bait syair tersebut.
Apabila Abdullah bin Kurz berpapasan dengan sekelompok kaum muslimin, mereka pun memanggilnya dan memintanya agar membacakan syair tersebut.
Lalu ketika ia membacakannya, mereka pun menangis. [Demikian dalam kitab Kanzul-‘Ummâl (8/124)].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Ja’far Al-Firyabi dalam kitab Al-Kuna miliknya, Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab Al-Wuhdân, Ibnu Syahin, Ibnu Mandah dalam kitab Ash-Shahâbah, Ibnu Abid-Dunya dalam kitab Al-Kafâlah.
Semuanya dari jalur sanad Muhammad bin ‘Abdul-‘Aziz Az-Zuhri dari lbnu Syihab dari Urwah dari ‘Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ, dengan lafal yang sebagian besarnya sama, -sebagaimana dalam kitab Al-Ishâbah (2/362).






