Lalu seseorang berkata kepadanya, “Wahai Amirul-Mukminin! Engkau disambut oleh para tentara dan para komandan Negeri Syam. Sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu?”
Lalu Umar berkata, Sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan Allah dengan Islam. Dan kami tidak akan mencari kemuliaan dengan cara lain selain Islam.”
Menurut riwayat Hakim pula (3/82), dari Thariq bin Syihab, disebutkan: Lalu Abu Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Wahai Amirul-Mukminin! Sungguh, engkau telah melakukan suatu perbuatan yang dapat menurunkan martabatmu dalam pandangan orang-orang pribumi!
Engkau melepas sepasang sepatu kulitmu, menuntun sendiri untamu, dan menyeberangi sungai.”
Umar pun mendorong dada Abu Ubaidah dengan tangannya. Ia mengatakan, “Alangkah baiknya jika bukan kamu yang mengucapkan kata-kata itu, hai Abu Ubaidah!
Dahulu kalian adalah orang yang paling hina. Lalu Allah ta’ala telah memberikan kemuliaan kepada kalian dengan sebab Islam.
Maka apabila kalian mencari kemuliaan dengan sebab lain selain Islam, niscaya Allah ta’ala akan menghinakan kallan.”
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Abu Nu’aim dalam Kitab Hilyatul-Aullya (1/47), dari Thariq, dengan lafal yang sebagian besarnya sama, juga oleh Ibnul-Mubarak, Hannad, dan Baihaqi dalam Kitab Syu’abul-iman dari Thariq bin Syihab dengan lafal yang sebagian besarnya sama, -sebagaimana dalam kitab Muntakhab Kanzil-Ummál (4/400).
Menurut riwayat Abu Nu’aim dalam Kitab Hiyatul-Aullya pula (1/47) dari Qais, la berkata: Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu tiba di Syam, ia disambut oleh orang-orang (pribumi).
Ketika itu Umar berada di atas untanya. Maka orang-orang berkata, “Wahai Amirul-Mukminin! Alangkah baiknya jika engkau menaiki seekor kuda Turki! Engkau disambut oleh para pembesar dan para pemuka.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak memandang (kemuliaan) kalian di sini. Sesungguhnya, semua perkara (asbab kemuliaan) berasal dari sana -la pun menunjuk ke arah langit dengan tangannya-Biarkan untaku berjalan.”






