AL-HAKIM (1/61) meriwayatkan beserta sanadnya dari Thariq bin Syihab, ia berkata: Suatu ketika Umar bin Khattab radhiyallâhu ‘anhu berangkat menuju ke Syam’, sedangkan bersama kami ada Abu ‘Ubaidah bin Jarrah radhiyalláhu anhu.
Lalu mereka menuju ke titik penyeberangan sungai, Ketika itu, Umar menaiki seekor unta betina miliknya.
Kemudian ia turun dari untanya, la melepas sepatu kulitnya dan meletakkannya di atas pundaknya.
la pun memegang tali kekang untarnya, lalu membawanya melintasi tempat penyeberangan di sungai tersebut.
Maka Abu ‘Ubaidah berkata, “Wahai Amirul-Mukminin! Engkau nelakukan hal seperti ini? Engkau melepas kedua sepatu kulit dan meletakkannya di pundak.
Engkau juga memegang sendiri tali kekang untamu dan membawanya menyeberangi sungai? Kami merasa tidak senang apabila orang-orang penduduk pribumi memandangimu dalam keadaan demikian.
Lalu Umar berkata, “Payah kamu, seandainya kata-kata itu diucapkan oleh orang lain selain kamu hai Abu ‘Ubaidah! Tentu aku telah menjadikannya sebagai pelajaran bagi umat Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam.
Sungguh, dahulu kita adalah orang-orang yang paling hina. Lalu Allah telah memuliakan kita dengan Islam.
Maka apabila kita mencari cara lain untuk mendapatkan kemuliaan, selain cara yang dengannya Allah telah memuliakan kita, tentu Allah akan menghinakan kita.”
(A-Hakim berkata: Ini hadis shahih menurut syarat sanad Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkan beserta sanadnya dalam kitab shahih mereka.
Disepakati oleh Dzahabi, dan dia mengatakan, Sesuai dengan syarat sanad Bukhari dan Muslim).
Menurut riwayat Al-Hakim pula (1/62) dari Thariq bin Syihab, ia berkata: Ketika Umar radhijyallâhu ‘anhu datang ke negeri Syam, ia disambut oleh para tentara.
Ketika itu ia mengenakan sarung, sepasang sepatu kulit, dan sebuah serban. la memegang kepala untanya menyeberangi sungai.
Lalu seseorang berkata kepadanya, “Wahai Amirul-Mukminin! Engkau disambut oleh para tentara dan para komandan negeri Syam. Sedangkan engkau dalam keadaan seperti itu?”
Lalu Umar berkata, Sesungguhnya kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan Allah dengan Islam. Dan kami tidak akan mencari kemuliaan dengan cara lain selain Islam.”
Menurut riwayat Hakim pula (3/82), dari Thariq bin Syihab, disebutkan: Lalu Abu Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Wahai Amirul-Mukminin! Sungguh, engkau telah melakukan suatu perbuatan yang dapat menurunkan martabatmu dalam pandangan orang-orang pribumi!
Engkau melepas sepasang sepatu kulitmu, menuntun sendiri untamu, dan menyeberangi sungai.”
Umar pun mendorong dada Abu Ubaidah dengan tangannya. Ia mengatakan, “Alangkah baiknya jika bukan kamu yang mengucapkan kata-kata itu, hai Abu Ubaidah!
Dahulu kalian adalah orang yang paling hina. Lalu Allah ta’ala telah memberikan kemuliaan kepada kalian dengan sebab Islam.
Maka apabila kalian mencari kemuliaan dengan sebab lain selain Islam, niscaya Allah ta’ala akan menghinakan kallan.”
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul-Aullya (1/47), dari Thariq, dengan lafal yang sebagian besarnya sama, juga oleh Ibnul-Mubarak, Hannad, dan Baihaqi dalam kitab Syu’abul-iman dari Thariq bin Syihab dengan lafal yang sebagian besarnya sama, -sebagaimana dalam kitab Muntakhab Kanzil-Ummál (4/400).
Menurut riwayat Abu Nu’aim dalam Kitab Hiyatul-Aullya pula (1/47) dari Qais, la berkata: Ketika Umar radhiyallahu ‘anhu tiba di Syam, ia disambut oleh orang-orang (pribumi).
Ketika itu Umar berada di atas untanya. Maka orang-orang berkata, “Wahai Amirul-Mukminin! Alangkah baiknya jika engkau menaiki seekor kuda Turki! Engkau disambut oleh para pembesar dan para pemuka.”
Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku tidak memandang (kemuliaan) kalian di sini. Sesungguhnya, semua perkara (asbab kemuliaan) berasal dari sana -la pun menunjuk ke arah langit dengan tangannya-Biarkan untaku berjalan.”
Ibnu Abid-Dunya meriwayatkan beserta sanadnya dari Abul-Ghaliyah Asy-Syami, ia berkata: Umar bin Khattab tiba di Jabiyah melalui jalur Iliya’ dengan mengendarai seekor unta berwarna coklat. Bagian kepalanya yang tidak berambut berkilau terkena sinar matahari, tanpa mengenakan peci ataupun serban.
Kedua kakinya bergelantungan dari kedua sisi pelana tanpa dilengkapi dengan pijakan kaki.
Alas pelananya berupa pakaian anbijaniyah’ yang terbuat dari kain wol. Pakaian itu digunakan sebagai alas pelana ketika sedang berkendara, dan digunakan sebagai alas tidurnya jika sedang singgah.
Tasnya berupa kain bercorak garis-garis hitam puth atau kain syal yang diisi dengan sabut pohon kurma.
Kain itu digunakan sebagai tasnya jika sedang berkendara, dan digunakan sebagai bantalnya ketika sedang singgah la mengenakan baju gamis yang terbuat dari kain kasar dengan corak garis-garis yang terlihat samar-samar. Bagian sampingnya telah robek.
Umar berkata, “Panggilkan pemimpin orang-orang pribumi ke sini.”
Lalu mereka memanggilkan untuknya ketua pastor. Umar berkata “Cucikan baju gamisku ini dan jahitkanlah, serta pinjami aku sepasang pakaian atau sehelai baju gamis.”
Lalu, diambilkan untuknya sehelai baju gamis dari kain linen. Umar bertanya, “Kain apa ini?”
Orang-orang menjawab. “Kain linen”
Umar bertanya lagi, “Apa itu kain linen?”
Maka orang-orang memberitahunya tentang kain linen. Umar pun melepas baju gamisnya, dan baju itu dicuci lalu ditambal, kemudian diberikan kembali kepada Umar.
Umar melepas baju gamis pinjaman mereka, lalu memakai kembali bajuya sendiri.
Ketua pastor berkata kepada Umar, “Engkau adalah Raja Arab, sedangkan di negeri ini kendaraan berupa unta tidak biasa digunakan.
Jika engkau mengenakan pakaian lain dan mengendarai kuda Turki, pasti penampilanmu akan lebih berwibawa di mata orang-orang Romawi.”
Umar berkata, “Kami adalah orang-orang yang telah dimuliakan oleh Allah dengan Islam, maka kami tidak akan mencari kemuliaan dengan cara yang lain selain dengan cara yang ditentukan oleh Allah.
Kemudian didatangkan kepadanya seekor kuda Turki, lalu kuda itu dipasangi kain beludru di punggungnya tanpa dipasangi pelana, baik pelana kuda maupun pelana unta. Umar naik ke atas punggung kuda yang telah dilapisi dengan alas tersebut.
Kemudian ia berkata, “Hentikan kuda inil Hentikan kuda ini! Sebelum ini, aku tidak pernah melihat manusia mengendarai setanl”
Kemudian didatangkan kembali unta milik Umar radhiyallâhu ‘anhu, lalu ia menaikinya.
[Demikian dalam Kitab Al-Bidâyah (7/60)]






