Kemudian ia menghadap dengan wajahnya ke arah Abbas bin Abdul-Mutthalib, lalu berkata, “Adapun kamu wahai orang yang menghalangi dengan perkataannya antara kami dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam! Dan Allah lebih mengetahui apa yang kamu inginkan dengannya, kamu menyebutkan bahwa ia adalah keponakanmu dan orang yang paling kamu cintai.
Ketahuilah bahwa kami telah memutuskan hubungan dengan orang yang dekat kepada kami, orang yang jauh, serta kerabat.
Kami juga bersaksi bahwa ia adalah utusan Allah. Allah telah mengutusnya dari sisi-Nya.
Ia bukanlah seorang pendusta. Wahyu yang ia bawa juga tidak seperti ucapan manusia. Adapun apa yang kamu sebutkan bahwa
kamu merasa tidak tenang kepada kami sehubungan dengan beliau, sebelum kamu mengambil janji dari kami, hal ini merupakan suatu perilaku manusiawi yang tidak dapat kami sangkal terhadap siapa pun yang menginginkannya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ambillah (janji dari kami) sesukamu.”
Kemudian As’ad menoleh kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Ambillah (janji dari kami) untuk dirimu sendiri sekehendakmu, dan berikan syarat (kepada kami) untuk Tuhanmu sekehendakmu.” -Lalu perawi melanjutkan hadisnya secara panjang lebar mengenai baiat mereka.






