Adapun nama dua orang yang membela Baiharah bin Firas adalah: Hazan bin Abdullah dan Mu’awiyah bin ‘Ubadah.
Sedangkan tiga orang yang menolong Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam adalah: Ghithrif bin Sahl, Ghathafan bin Sahl, dan ‘Urwah bin Abdullah.
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Al-Hafizh Sa’id bin Yahya bin Salid Al-Umawi dalam Kitabnya Al-Maghâzi dari ayahnya dengan lafal yang sama, sebagaimana dalam kitab Al-Bidâyah (3/141).
Menurut riwayat Ibnu Ishaq dari Zuhri disebutkan bahwa Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam datang kepada Bani Umar bin Sha’sha’ah (di tempat persinggahan mereka pada musim haji), lalu mengajak mereka kepada agama Allah dan menawarkan kepada mereka agar bersedia menerima diri beliau.
Maka seseorang diantara mereka yang bernama Baiharah bin Firas berkata mengenai beliau, “Demi Allah! Jika aku bisa memegang anak muda dari kabilah Quraisy ini, tentu aku dapat mengalahkan seluruh bangsa Arab!”
Kemudian Baiharah berkata kepadanya, “Bagaimana pendapatmu jika kami mengikutimu diatas agamamu, kemudian Allah memberikan kemenangan kepadamu terhadap orang yang menyelisihimu, apakah kami akan memegang kekuasaan sepeninggalmu nanti?”
Beliau bersabda, “Kekuasaan itu milik Allah. Dia berhak menyerahkannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki.”
Maka Baiharah berkata kepadanya, “Apakah kami biarkan leher-leher kami menjadi sasaran panah Bangsa Arab untuk melindungimu, kemudian ketika Allah memberikan kemenangan kepadamu, kekuasaan dipegang oleh orang lain? Kami tidak memerlukan tawaranmu.”
Mereka pun menolak seruan Nabi shallallanu ‘alaihi wasallam.
Ketka orang-orang pulang selepas menunaikan haji. Bani ‘Amir pun pulang menghadap sesepuh mereka yang telah anjut usia, sehingga tidak mampu berangkat haji bersama mereka selama beberapa musim haji.
Maka apabila mereka kembali dan menghadap kepadanya, mereka menceritakan kepadanya apa yang terjadi pada musim haji tersebut.
Ketika mereka kembali dari haji dan menghadap kepadanya pada tahun tersebut, ia bertanya kepada mereka mengenai apa yang terjadi pada musim haji tahun itu.
Mereka pun berkata, “Seorang pemuda dari Kabilah Quraisy datang kepada kami, yakni seseorang dari Bani Abdul-Mutthalib.






