la mengaku bahwa dirinya adalah seorang nabi. la menyeru kami agar kami melindunginya, mendukungnya, dan membawanya tinggal di negeri kami.”
Maka sesepuh itu meletakkan tangannya di atas kepalanya, kemudian berkata, “Wahai Bani ‘Amir! Adakah cara untuk menebus kesalahan yang telah kalian perbuat?
Mungkinkah kesempatan emas yang telah terlewatkan dapat diraih lagi?
Demi Dzat yang jiwa seseorang ada di tangan-Nya! Anak keturunan Ismail sama sekali tidak pernah menyatakan kenabian secara dusta.
Sungguh! Pengakuannya atas kenabian itu benar. Di manakah pemikiran cemerlang kalian yang biasa kalian miliki?”
[Demikian dalam kitab Al-Bidâyah Wan-Niháyah (3/139)].
Disebutkan pula oleh Al-Hafizh Abu Nu’aim (hal. 100) dari Ibnu lshaq dari Zuhri, dimulai dari: Ketika orang-orang pulang selepas menunaikan haji, Bani ‘Amir pun pulang menghadap sesepuh mereka.. -dan seterusnya.
lbnu Ishaq meriwayatkan pula beserta sanadnya dari Zuhri bahwa Nabi shallallähu ‘alaihi wasallam datang ke Kabilah Kindah di tempat-tempat persinggahan mereka (pada musim haji).
Diantara mereka ada pemimpin mereka yang bernama Mulaih. Lalu beliau menyeru mereka kepada agama Allah ‘azza wajalla dan menawarkan kepada mereka agar bersedia menerima diri beliau. Namun mereka menolaknya.






