AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhâ, ia berkata: Setelah turun ayat:
وَأَنْدِ رَعَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ ﴾ (الشعراء: ٢١٤)
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara : 214).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri” (setelah mengumpulkan kerabat dekat beliau) lalu bersabda, “Wahai Fatimah putri Muhammad! Wahai Shafiyyah putri Abdul-Mutthalib! Wahai Bani Abdul-Mutthalib! Aku tidak mempunyai kekuasaan sedikit pun untuk mempertahankan kalian dari (azab) Allah! Namun silakan kalian meminta hartaku sekehendak kalian.”
[Muslim sendirian dalam periwayatannya].
AHMAD meriwayatkan pula beserta sanadnya dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Setelah turun ayat berikut ini:
وَأَنْدِ رَعَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ ﴾ (الشعراء: ٢١٤)
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (Asy-Syu’ara : 214).
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan sebagian ahlul-bait beliau.
Maka berkumpullah tiga puluh orang. Mereka pun makan dan minum.
Lalu beliau berkata kepada mereka, “Siapa yang bersedia menjamin utangku serta janji-janjiku, dan kelak ia akan bersamaku di dalam surga, serta menggantikanku dalam mengurusi keluargaku?”
Maka salah seorang berkata, “Wahai Rasulullah! Engkau adalah orang yang dermawan bagaikan samudera (sehingga pasti banyak utangnya). Siapa yang sanggup menanggung semua ini?”
Kemudian beliau mengulanginya lagi sebanyak tiga kali, beliau menawarkan hal tersebut kepada ahlul-bait beliau.
Maka Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, “Aku.”
Ahmad meriwayatkan pula beserta sanadnya dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan (mengundang) Bani Abdul-Mutthalib dan mereka berjumlah sepuluh orang laki-laki atau kurang.
Masing-masing dari mereka biasa memakan seekor anak hewan (unta, sapi, atau kambing) yang sudah cukup umur sendirian dan meminum air sebanyak satu faraq sendirian.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuatkan untuk mereka satu mud makanan.
Mereka pun makan hingga kenyang, namun makanan tersebut tetap utuh seperti sedia kala, seolah-olah tidak pernah disentuh.
Kemudian beliau meminta agar diambilkan mangkuk kecil (berisi minuman).
Mereka pun minum hingga puas, namun minuman tersebut tetap utuh, seolah-olah tidak pernah disentuh atau tidak pernah diminum.












