Imam Muslim juga meriwayatkan di dalam Shahih-nya sebuah hadits dari Jabir bin Abdullah, ia pernah mendengar Nabi Muhammad bersabda, “Apabila seorang lelaki memasuki rumahnya, lalu dia menyebut nama Allah ketika masuk dan ketika makan, setan akan berkata kepada teman-temannya, “Tidak ada tempat penginapan dan makan malam untuk kalian.”
Jika dia memasuki rumahnya tanpa menyebut nama Allah, setan akan berkata (kepada saudara-saudaranya), “Kalian bisa ikut menginap di dalamnya malam ini.’
Dan ketika makan, dia tidak menyebut nama Allah. Setan berkata, ‘Kalian bisa ikut nimbrung
makan malam.”
Ada tiga pendapat ulama perihal makan dan minumnya jin:
Pendapat pertama: Semua jenis jin tidak makan dan tidak minum. Ini adalah pendapat yang batil dan tak ada dalilnya.
.
Pendapat kedua : Segolongan dari bangsa jin ada yang makan dan minum, tetapi ada yang tidak makan dan tidak minum.
Pendapat ini mengambil dalil dari hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdul Barr dari Wahab bin Munabbih, dia berkata, “Jin terdiri dari beberapa jenis. Jenis yang paling murni adalah berupa angin yang tidak makan, tidak minum dan tidak berketurunan.
Ada juga jenis yang makan, minum dan berketurunan. Yang terakhir adalah para tukang sihir dan hantu-hantu dari jenis jin.
Disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fathul Bari.”
Pendapat ini menggunakan dalil dari hadist riwayat Tsa’labah Al-Khasyani (dan sudah disebutkan) pada pembahasan jenis-jenis jin. Saya katakan, “Ini hanya sebatas kemungkinan.
Pendapat ketiga : Semua jenis jin makan dan minum.
Saya katakan, “Pendapat ketiga lebih dapat diterima daripada dua pendapat sebelumnya.
Pendapat inilah yang sesuai dengan hadits-hadits yang telah dikemukakan sebelumnya. Wallahu a’lam.
Adapun hadits Abdullah bin Mas’ud, telah diriwayatkan Imam Muslim dengan lafal, “Makanan kalian adalah tulang binatang yang kalian temukan dan ketika menyembelihnya disebutkan nama Allah, dan itu merupakan makanan yang paling banyak dagingnya.”
Sedangkan Abu Dawud dan yang lainnya meriwayatkan dengan lafal, ‘Setiap tulang yang tidak disebutkan nama Allah (ketika disembelih).”
Jika hadits ini tidak terbalik perawinya, maka bisa saja dilakukan metode “Al-Jam’u” (penggabungan antara dua riwayat yang maknanya kelihatan bertentangan),” yaitu, bahwa riwayat Imam Muslim khusus jin muslim, sementara riwayat Abu Dawud khusus jin kafir. Wallahu a’lam bish shawab.
Setan Punya Tanduk
DARI Amr bin Anbasah, dia berkata, Rasulullah bersabda:
إِنَّ الشَّمْسَ تَطْلُعُ وَتَغْرُبُ بَيْنَ قَرْنَيْ الشَّيْطَانِ
“Sesungguhnya matahari terbit dan tenggelam di antara dua tanduk setan.” (HR. Bukhari dalam Kitab Bad’ul Khalq, Bab 11) dan (HR. Muslim dalam Kitab Al-Musafirin hal 290-294).






