Mereka berkata, “Baiklah, kami setuju.”
Kemudian mereka menghadap Raja Najasyi dan menyerahkan hadiah kepadanya. Hadiah dari Makah yang paling disukai oleh Raja Najasyi adalah kulit.
Setelah memberikan hadiah, mereka berkata kepadanya, “Wahai Sang Raja! Beberapa orang bodoh dari kabilah kami telah meninggalkan agama kaum mereka, dan mereka juga tidak memeluk agamamu.
Mereka telah membawa agama baru yang tidak kami ketahui sebelumnya.
Kini mereka telah mencari suaka di negerimu. Kami telah diutus kepadamu oleh karib kerabat mereka: Orangtua, paman, dan sanak saudara mereka, dengan maksud agar membawa mereka kembali ke tempat mereka.
Hal itu karena mereka paling paham tentang keadaan orang-orang bodoh tersebut.
Selain itu, orang-orang bodoh itu juga tidak akan masuk ke dalam agamamu, sehingga engkau tidak perlu melindungi mereka dan memenuhi keinginan kami.”
Raja Najasyi pun marah dan berkata, “Tidak bisa! Sungguh! Aku tidak akan mengembalikan mereka kepada orang-orang kabilah mereka sebelum aku memanggil mereka lebih dahulu, lalu berbicara dengan mereka, serta memahami masalah yang mereka hadapi.
Mereka adalah orang-orang yang mencari suaka di negeriku.
Mereka memilih perlindunganku daripada perlindungan orang lain.
Jika mereka seperti yang dikatakan oleh orang-orang Quraisy itu, aku akan mengembalikan mereka ke sana.
Namun jika tidak, aku akan tetap melindungi mereka (di sini). Aku juga tidak akan mencampuri urusan diantara mereka dan kaumnya, dan tidak akan mengambil hati pihak mana pun (dengan mengembalikan mereka).”












