Maka Malik bin Shaif berkata, “Apakah kalian berbangga diri karena telah mengalahkan sekelompok orang Quraisy yang tidak memiliki banyak pengetahuan tentang strategi perang?
Sungguh! Seandainya kami bertekad untuk menghimpun semua kekuatan kami untuk melawan kalian, tentu kalian tidak akan mampu melawan kami.”
Lalu Ubadah bin Shamit berkata, “Wahai Rasulullah! Para sekutuku dari kalangan Yahudi memiliki jiwa yang kuat, senjata yang banyak, dan kekuatan yang besar.
Namun demikian, aku melepaskan persekutuanku dengan mereka untuk menjaga kesetiaanku kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku tidak memiliki pelindung selain Allah dan Rasul-Nya.”
Lalu, Abdullah bin Ubay berkata, “Namun aku tidak melepaskan persekutuanku dengan orang-orang Yahudi, karena aku selalu membutuhkan mereka.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Hai Abu Hubab! Kamu telah memilih untuk melangsungkan persekutuanmu dengan orang-orang Yahudi, tidak seperti Ubadah bin Shamit. Maka kamu boleh melakukannya, sedangkan Ubadah tidak boleh.”
Abdullah bin Ubay berkata, “Jika demikian, aku akan meneruskan persekutuanku dengan mereka.”
Lalu Allah menurunkan ayat-ayat berikut ini:
“Hai Orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain.
Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka.
Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim…
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (QS. Al-Maidah 51-67)






