Lalu, Mu’adz đatang menjumpai Abu Bakar dan mencerítakan mímpinya itu.
Mu’adz bersumpah bahwa ia tidak menyembunyikan sedikít pun darí harta tersebut.
Bahkan ía pun menjelaskan kepada Abu Bakar tentang cambukya.
Abu Bakar berkata, “Dermi Allah! Aku tidak akan mengarnibilnya darirnu. Aku telah menghibahkannya kepadamu.”
Umar berkata, “Sekarang ambillah, karena harta ítu telah menjadi halal bagimu. Kemudian Mu’adz berangtat ke Syam.
[Demikían dalam kítab Kanzul-Ummal (3/126)].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Abu Nu’aim dalam kítab Hilyatul Auliya (1/231) darí jalur Abdurrazzaq dengan sanadnya darí ibnu Ka’ab bin Malik, ia berkata: Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu adalah seorang pemuda yang tampan dan dermawan.
la terrmasuk pemuda terbaik darí kaumya. Apabila ada seseorang yang meminta sesuatu kepadanya, ia pasti memberínya, sehingga ia pun terus berutang dengan utang yang begítu banyak hingga menghabiskan hartanya.
Kernudian, perawi meneruskan riwayat seperti hadis di atas.
Al-Hatim (3/273) meriwayatkan beserta sanadnya darí Abdurrahman bin Ka’ab bin Mallk darí ayahya.
Kemudian, ía menyebutkan hadis tersebut secara ringkas.
Al-Hatim berkata: Hadis ini shahih atas Syarat Bukhari dan muslim, namun keduaya tidak meriwayatkannya dalam kitab sahih mereka. (Hal ini disepakati oleh Drahabi).
AL-HAKIM juga meriwayatkan beserta sanadnya darí Jabir radhiyallahu anhu, ia berkata: Mu’adz radhiyallahu ‘anhu termasuk orang yang wajahnya paling tampan, akhlaknya paling bagus, dan tangannya paling dermawan, karena saking dermawannya, ia berutang dengan jumlah utang yang cukup banyak.
Ia pun ditagih oleh orang-orang yang memberinya utang, sehingga ia sempat mengasingkan diri di rumahnya selama beberapa hari agar tidak bertemu dengan mereka.
Hingga akhirnya ia pun meminta bantuan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap orang-orang yang memberikan utang kepadanya.
Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang untuk memanggil Mu’adz.
Mu’adz pun datang disertai orang-orang yang memberinya utang.
Mereka berkata, “Wahai Rasulullah! Tagihkanlah kepadanya utang yang telah.ia ambil dari kami.”
Kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Semoga Allah merahmati orang yang mau bersedekah kepadanya.”
Maka beberapa orang yang memberikan utang itu bersedekah kepada Mu’adz, namun yang lain menolak.












