5 - Nusroh

Setelah Berkhianat Pada Perang Khandaq, Bani Quraizhah Dikepung dan Dieksekusi dengan Keputusan Said bin Muadz

3
×

Setelah Berkhianat Pada Perang Khandaq, Bani Quraizhah Dikepung dan Dieksekusi dengan Keputusan Said bin Muadz

Sebarkan artikel ini

IMAM AHMAD meriwayatkan beserta sanadnya, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhã, ia berkata: Ketika terjadi Perang Khandaq, aku keluar rumah dan mengikuti jejak kaum muslimin.

Lalu aku mendengar suara langkah kaki di tanah dari arah belakang.
Aku lihat ternyata Said bin Muadz dan keponakannya Harits bin Aus-radhiyallahu ‘anhuma-yang membawa perisai.

Aku pun duduk di atas tanah, sementara Said terus lewat dengan mengenakan baju besi (yang terlalu kecil) sehingga kedua tangannya tidak tertutup baju besi. Aku merasa khawatir (terhadap musuh) atas tangan dan kaki Sa’d.

‘Aisyah juga berkata: Sa’d termasuk salah seorang yang paling besar dan tinggi. la lewat sambil menirukan syair dengan bahar (irama) rajaz:

Tunggu sejenak hingga Hamal datang di medan perang
Alangkah indahnya maut tatkala masanya telah datang.

Kemudian aku berdiri dan memasuki sebuah kebun. Di sana aku dapati sekelompok kaum muslimin.

Diantara mereka ada Umar bin Khattab radhiyallohu ‘anhu. Ada pula seseorang yang memakai topi besi.

Lalu Umar berkata kepadaku, “Apa yang membuatmu datang ke sini? Demi Allah! Kamu wanita pemberani.
Tidakkah kamu takut jika kita mengalami kekalahan atau harus ditarik mundur?”

la terus menegurku sampai-sampai aku berangan-angan seandainya bumi terbuka pada saat itu sehingga aku dapat masuk ke dalamnya.

Lalu lelaki bertopi besi itu
membuka topi besinya. Ternyata ia adalah Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu.

la pun berkata, “Payah kamu hai Umar! Hari ini kamu terlalu banyak bicara ke mana lagi kita akan mundur atau lari kecuali kepada Allah ‘azza wajalla?”

Said (bin Muadz) berhasil dipanah oleh seorang laki-laki dari pihak Quraisy yang bernama Ibnul-‘Ariqah.

Ia memanah Said seraya berseru, “Rasakan inil Akulah Ibnul-‘Ariqah!”

Panah tersebut mengenai urat nadi di lengannya hingga terputus.

Lalu Said berdoa kepada Allah, “Ya Allah! Jangan biarkan aku mati sebelum engkau hibur aku dengan melihat kekalahan Bani Quraizhah.”

-Bani Quraizhah merupakan para sekutu dan orang-orang dekat Said pada zaman jahiliyah. Lalu luka Said
mengatup (sehingga pendarahan berhenti).

Kemudian Allah mengirim angin (puting beliung) yang membereskan pasukan musyrikin. Allah telah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.

Abu Sufyan dan orang-orangnya kembali ke kawasan Tihamah. ‘Uyainah bin Badr dan orang-orangnya kembali ke kawasan Najd.

Sedangkan Bani Quraizhah kembali dan berlindung di benteng-benteng pertahanan mereka.

Sementara itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali ke Madinah. Beliau memerintahkan
agar sebuah tenda yang terbuat dari kulit dipasang di dalam Masjid untuk Said (bin Muadz).

Lalu datanglah malaikat Jibril ‘alaihis-salam dengan sisa-sisa kepulan debu yang masih lekat pada gigi-gigi serinya.

la berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Engkau telah meletakkan senjatamu?

Demi Allah! Para malaikat belum meletakkan senjata mereka. Berangkatlah engkau menuju Bani Quraizhah, lalu perangilah mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengenakan lagi perlengkapan perangnya, dan menyerukan pengumuman kepada para sahabat radhiyallahu ‘anhum agar berangkat lagi untuk berperang.

Ketika melewati pemukiman Bani Ghanam yang tinggal di sekitar lingkungan Masjid nabawi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada mereka, “Siapa tadi yang telah lewat di tempat kalian ini?”

Mereka menjawab, “Yang lewat adalah Dihyah Al-Kalbi (radhiyallahu ‘anhu).”

Memang, janggut, gigi, dan wajah Dihyah menyerupai Jibril ‘alaihis-salam (sehingga mereka mengira Dihyah yang lewat).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke tempat Bani Quraizhah, lalu mengepung mereka selama dua puluh lima malam.

Ketika Bani Quraizhah merasa
tidak sanggup lagi menanggung pengepungan dan penderitaan pun terasa semakin berat, maka diserukan kepada mereka, “Menyerahlah kalian dengan keputusan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Lalu mereka meminta arahan Abu
Lubabah bin Abdul-Mundzir. la pun menyampaikan kepada mereka bahwa mereka akan dibunuh (jika mengikuti seruan tersebut).

Kemudian mereka berkata, “Kami bersedia menyerah dengan keputusan dari Said bin Muadz.”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Silakan kalian menyerah dengan keputusan dari Said bin Musadz.”

Lalu Said bin Muadz radhiyallahu ‘anhu dihadirkan diatas seekor keledai yang dilengkapi dengan pelana yang terbuat dari sabut pohon kurma, la dinaikkan di atas keledai, sementara orang-orangnya mendampingi disekitarnya.

Mereka berkata kepada Said, “Wahai Abu Amr! Bani Quraizhah adalah sekutu dan orang-orang dekatmu, juga telah membantu kita mengalahkan musuh. Mereka adalah orang-orang yang telah kita kenal dengan baik.”

Namun Said tidak memberikan jawaban sedikit pun, dan bahkan tidak menoleh ke arah mereka. Ketika sudah mendekat ke pemukiman Bani Quraizhah, Said menoleh kepada orang-orangnya, lalu berkata, “Sekarang tiba waktunya bagiku untuk tidak peduli
atas celaan orang dalam menegakkan agama Allah!”

‘Aisyah berkata: Abu Said radhiyallahu ‘anhu berkata: Ketika Said tiba, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sambutlah tuan kalian dan bantulah ia turun!”

Umar berkata, “Tuan kami adalah Allah.”

Beliau mengulang, “Bantu ia turun.”

Maka para sahabat pun membantunya turun. Lalu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya, “Tetapkan keputusan terhadap mereka.”

Said berkata, “Aku memutuskan bahwa semua laki-laki yang layak
berperang harus dibunuh, anak-anak dan istri mereka harus ditawan, dan harta mereka akan dibagi-bagikan (sebagai fai’).”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda, “Kamu telah menetapkan keputusan terhadap mereka sesuai dengan keputusan Allah dan Rasul-Nya.”

Kemudian Said berdoa, “Ya Allah! Jika engkau masih menyisakan peperangan antara Nabi-Mu dan orang-orang kafir Quraisy, maka panjangkanlah umurku untuk
dapat mengikutinya.

Namun jika engkau telah menghentikan peperangan antara
Nabi-Mu dan orang-orang kafir Quraisy, maka ambillah nyawaku.”

Lalu luka Said terbuka lagi dan memancarkan darah, padahal ketika itu sudah sembuh dan hanya
tinggal sedikit seperti anting-anting bayi. la pun kembali ke tenda yang telah dipasang untuknya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu ‘anhuma datang menjenguknya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya! (Ketika Said meninggal), aku masih bisa membedakan antarantangisan Umar dan tangisan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, padahal aku berada di dalam kamarku.

Mereka seperti yang difirmankan Allah:

“Mereka saling berkasih sayang dengan sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)

‘Alqamah berkata: Lalu aku bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ibu! Lalu apa
yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”

‘Aisyah menjawab, “Biasanya mata beliau tidak meneteskan air mata karena kematian seseorang. Namun jika merasa bersedih, beliau biasanya memegang janggutnya sendiri.”

[Hadis Ini sanadnya jayyid, dan memiliki hadis-hadis pendukung dari berbagai rangkaian sanad yang banyak. -Demikian dalam kitab Al-Bidayah Wan-Nihayah (4/123)].

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Ibnu Said, dari (Aisyah radhiyallahu ‘anhã dengan lafal yang sama.

[Haitsami (6/138) berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad. Dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Amr bin ‘Alqamah, dan hadis yang diriwayatkannya hasan. Sedangkan para perawi lainnya tsiqat].

[Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Kitab Al-Ishâbah (1/274): Hadis shahih, dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban].

Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Abu Nusaim secara panjang lebar,-sebagaimana dalam kitab Kanzul-Ummál (7/40).

Setelah menuliskan hadis ini, beberapa muhaddits menambahkan sejumlah hadis dari jalur sanad Muhammad bin Amr, mengenai keutamaan Said bin Musadz radhiyallahu ‘anhu.

Menurut riwayat Ibnu Jarir dalam Kitab Tahdzibul-Atsar yang ia tulis,
sebagaimana dalam kitab Kanzul-‘Ummál dari Aisyah radhiyallahu ‘anhô, disebutkan bahwa ketika Said bin Muadz radhiyallahu ‘anhu meninggal, Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam menangis, dan para sahabat pun menangis, padahal biasanya apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasa sangat sedih, beliau hanya memegang janggutnya sendiri.

Aisyah juga berkata: Aku bisa membedakan antara tangisan ayahku dan tangisan Umar.

Menurut riwayat Thabarani, dari Aisyah radhiyallahu ‘anhá, ia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari melayat jenazah Said bin Muadz, sedangkan air mata menetes pada janggutnya.

[Haitsami (9/309) berkata bahwa Sahl Abu Hariz adalah rawi yang dha’if].

error: Allahu Akbar