Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kamu telah menetapkan keputusan terhadap mereka sesuai dengan keputusan Allah dan Rasul-Nya.”
Kemudian Said berdoa, “Ya Allah! Jika engkau masih menyisakan peperangan antara Nabi-Mu dan orang-orang kafir Quraisy, maka panjangkanlah umurku untuk dapat mengikutinya.
Namun jika engkau telah menghentikan peperangan antara Nabi-Mu dan orang-orang kafir Quraisy, maka ambillah nyawaku.”
Lalu luka Said terbuka lagi dan memancarkan darah, padahal ketika itu sudah sembuh dan hanya tinggal sedikit seperti anting-anting bayi. la pun kembali ke tenda yang telah dipasang untuknya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar, dan Umar radhiyallahu ‘anhuma datang menjenguknya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya! (Ketika Said meninggal), aku masih bisa membedakan antarantangisan Umar dan tangisan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma, padahal aku berada di dalam kamarku.
Mereka seperti yang difirmankan Allah:
“Mereka saling berkasih sayang dengan sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)
‘Alqamah berkata: Lalu aku bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ibu! Lalu apa yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?”
‘Aisyah menjawab, “Biasanya mata beliau tidak meneteskan air mata karena kematian seseorang. Namun jika merasa bersedih, beliau biasanya memegang janggutnya sendiri.”
[Hadis Ini sanadnya jayyid, dan memiliki hadis-hadis pendukung dari berbagai rangkaian sanad yang banyak. -Demikian dalam kitab Al-Bidayah Wan-Nihayah (4/123)].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Ibnu Said, dari (Aisyah radhiyallahu ‘anhã dengan lafal yang sama.
[Haitsami (6/138) berkata: Diriwayatkan oleh Ahmad. Dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Amr bin ‘Alqamah, dan hadis yang diriwayatkannya hasan. Sedangkan para perawi lainnya tsiqat].
[Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Kitab Al-Ishâbah (1/274): Hadis shahih, dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban].
Diriwayatkan pula beserta sanadnya oleh Abu Nusaim secara panjang lebar,-sebagaimana dalam kitab Kanzul-Ummál (7/40).
Setelah menuliskan hadis ini, beberapa muhaddits menambahkan sejumlah hadis dari jalur sanad Muhammad bin Amr, mengenai keutamaan Said bin Musadz radhiyallahu ‘anhu.
Menurut riwayat Ibnu Jarir dalam Kitab Tahdzibul-Atsar yang ia tulis, sebagaimana dalam kitab Kanzul-‘Ummál dari Aisyah radhiyallahu ‘anhô, disebutkan bahwa ketika Said bin Muadz radhiyallahu ‘anhu meninggal, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menangis, dan para sahabat pun menangis, padahal biasanya apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasa sangat sedih, beliau hanya memegang janggutnya sendiri.
Aisyah juga berkata: Aku bisa membedakan antara tangisan ayahku dan tangisan Umar.
Menurut riwayat Thabarani, dari Aisyah radhiyallahu ‘anhá, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali dari melayat jenazah Said bin Muadz, sedangkan air mata menetes pada janggutnya.
[Haitsami (9/309) berkata bahwa Sahl Abu Hariz adalah rawi yang dha’if].






